SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

KISAH LANSIA PENGHUNI PANTI JOMPO MILIK PEMDA DIY, MENGELUH KANGEN ANAK HINGGA ADA YANG DIABAIKAN

(Last Updated On: 15 December 2022)

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Hidup sebatang kara di usia renta tentu tidak ingin dirasakan semua orang.

Akan tetapi, fenomena tersebut benar-benar dirasakan penghuni Balai Pelayanan Sosial Trena Wredha AbiyosoYogyakarta.

Tak sedikit dari ratusan lansia di sana sejatinya punya anak-cucu, namun sayang, mereka tega menitipkannya ke panti jompo besutan Pemda DIY tersebut

Kepala Balai Pelayanan Sosial Trena Wredha Abiyoso, Sri Purwanti, di sela menerima bakti sosial dari para Alumni Padmanaba 1986, Minggu (4/12/2022), mengungkapkan bahwa kejadian semacam itu sangat sering dijumpai.

Dijelaskannya, mayoritas lansia binaan berasal dari kategori kurang mampu, atau kalangan sepuh yang benar-benar hidup sendiri, bahkan terlantar.

“Ya, ada orang yang memang untuk hidup sendiri saja sudah susah, atau karena kesibukannya, kemudian orangtuanya dititipkan di sini,” urai Purwanti.

Ia pun mengungkapkan, Balai Pelayanan Sosial Trena Wredha Abiyoso memiliki dua layanan, pertama yakni, untuk masyarakat yang terlantar, tidak punya siapa-siapa, atau punya anak tapi tak tahu keberadaanya dan biayanya dibebankan ke pemerintah.

Kemudian, ada pula jalur mandiri, di mana para lansia ini sengaja dititipkan, dengan alokasi biaya tiap bulan.

“Dari 135 orang, hanya 10 orang dari jalur pelayanan khusus atau mandiri, dengan membayar biaya pelayanan Rp2 juta per bulannya,” ungkap Purwanti.

“Kalau kondisinya, tentu beraneka ragam. Sekitar 50 lansia sudah sangat renta, bahkan harus bedrest. Jadi, untuk makan saja harus disuapin, kemudian buang hajatnya menggunakan popok,” lanjutnya.

Mirisnya, ia pun mengisahkan, satu di antara keluh kesah yang sering disampaikan para penghuni Balai Pelayanan Sosial Trena Wredha Abiyoso adalah rindu pada anak.

Namun, ironisnya, tidak sedikit anak-anak atau sanak saudara yang menyerahkannya ke panti jompo ini malah menghilang tak diketahui rimbanya, seakan melepaskan tangggung jawab.

“Ada yang seperti itu, saat orangtuanya kangen, ingin ditengok anaknya, tapi nomornya sudah nggak aktif lagi. Rumahnya juga sudah pindah. Kalau seperti ini, kasihan petugas yang sehari-hari melayani mereka, harus banyak menghibur lah,” terangnya.

Fenomena semacam itu yang menjadi latar belakang para Alumni Padmanaba (SMA Negeri 3 Kota Yogyakarta) 1986, untuk menggulirkan bakti sosial di Balai Pelayanan Sosial Trena Wredha Abiyoso.

Alhasil, selain bantuan materi untuk menunjang kebutuhan sehari-hari para penghuni, mereka pun turut memberi suntikan moril bagi para lansia di sana.

“Jadi, kami ada tim survey yang menjelaskan kondisi penghuni di sini, ada yang kangen keluarganya, jadi butuh hiburan. Akhirnya, dipilihlah tempat ini,” ungkap Triyanto, Ketua Alumni Padmanaba 1986.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya menggulirkan pemeriksaan kesehatan gratis untuk seluruh penghuni Balai Pelayanan Sosial Trena Wredha Abiyoso.

Lantas, setelah menjalani medical check up dan pembagian obat-obatan, para lansia pun diajak untuk bernyanyi bersama, hingga diberikan layanan potong rambut, di mana semua layanan diberikan oleh para alumni Padmanaba.

“Ini menjadi bakti kami, dari para alumni Padmanaba, yang berprofesi sebagai dokter, perawat, dan ada juga yang bisa memotong rambut,” pungkasnya. (*)


Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Kisah Lansia Penghuni Panti Jompo Milik Pemda DIY, Mengeluh Kangen Anak hingga Ada yang Diabaikan, https://jogja.tribunnews.com/2022/12/04/kisah-lansia-penghuni-panti-jompo-milik-pemda-diy-mengeluh-kangen-anak-hingga-ada-yang-diabaikan.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni



Tentang penulis