SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS PEGAWAI BALAI RSBKL DALAM PENANGANAN KEGAWATDARURATAN GADUH-GELISAH

(Last Updated On: 4 December 2022)

SLEMAN – Pada Jumat dan Sabtu, 2 dan 3 Desember 2022, 25 orang Pegawai Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras yang terdiri dari perwakilan Manajerial, Pekerja Sosial, Perawat, Pramu Sosial, Driver Ambulan dan Satuan Pengamanan, bersama perwakilan dari masyarakat di Kalurahan Purwomartani mengikuti kegiatan Pelatihan Penanganan Kegawatdaruratan Gaduh-gelisah Berdasarkan Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas Mental yang diselenggarakan oleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM dan Perhimpunan Jiwa Sehat di Ruang Pertemuan Balai RSBKL unit Bina Laras Purwomartani.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petugas dalam melaksanakan tugas di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental yang memiliki potensi untuk terjadi kekambuhan. Dalam praktiknya, diharapkan upaya penanganan kegawatdaruratan tetap memperhatikan hak-hak Penyandang Disabilitas, tidak menggunakan kekerasan, sesuai dengan standar etik dan aman bagi petugas.

Kegiatan dilaksanakan selama 2 hari, dengan hari pertama penyampaian materi oleh dr.Tika Prasetiawati, Sp.KJ Psikiater dari RS UGM, Syaiful Anam seorang Dosen yang juga seorang Penyintas Disabilitas Psikososial, dan Sumiyati seorang mantan warga binaan yang pernah mengalami kekerasan selama di Panti Sosial khusus ODGJ.

Pada hari pertama disampaikan pentingnya mengetahui tentang alasan mengapa diperlukan upaya untuk melindungi Hak Penyandang Disabilitas agar terhindar dari kekerasan yang mungkin didapatkan selama menjalani upaya penanangan kekambuhan, baik oleh petugas di Balai Rehabilitasi, Rumah Sakit, maupun di Komunitas. Hari kedua materi diisi oleh Yonni Prianto, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.Kep.Jiwa dari RS jiwa Grhasia DIY yang membawakan materi penanganan kegawatdaruratan psikiatri dengan melindungi hak-hak Penyandang Disabilitas dan simulasi penanganan kegawatdaruratan gaduh gelisah, baik sejak tahapan agitasi, agresif, maupun tahapan kekerasan yang memerlukan upaya manajemen krisis. Peserta pelatihan dapat melaksanakan simulasi dengan dipandu oleh Perawat Yonni. Simulasi berjalan lancar dan mendapatkan respon antusias dari peserta. Antusias muncul dari peserta sebagai bentuk semangat membekali diri tetang penanganan kegawatdaruratan gaduh gelisah yang benar, sesuai prosedur dan aman bagi klien maupun petugas.

Diharapkan dengan adanya pelatihan semacam ini, dapat membuka wawasan petugas, dan meningkatkan kapasitas petugas yang akhirnya dapat menjalankan pelayanan di Balai RSBKL sesuai dengan keilmuan. Selain itu, hal ini secara tidak langsung dapat menumbuhkan semangat untuk terus belajar tentang Disabilitas Mental. Pada akhirnya diharapkan pelayanan di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental, dapat berjalan dengan baik, benar, dan sesuai dengan keilmuan dan aturan yang berlaku. (Agus Hardi Nata)

Tentang penulis