SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

MENUMBUHKAN JIWA SOSIALDINAS SOSIAL DIY MENYELENGGARAKAN OUTING BAGI SATRIYO

(Last Updated On: 6 December 2022)
Dokumentasi Dinas Sosial DIY

Sahabat Tagana Junior Istimewa Yogyakarta (Satriyo), Sabtu pagi pukul 08.30 WIB tiba di Balai Rehabilitasi Sosial dan Pengasuhan Anak (BRSPA) yang berada di Bimomartani, Ngemplak, Sleman. Sejumlah 30 anggota Satriyo, 4 guru pendamping, dan 6 mentor dari Tagana, langsung memasuki aula balai, untuk beramah tamah. Sigit Alifianto, SE, MM selaku Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial yang menjadi pimpinan rombongan, menyampaikan maksud kedatangan Satriyo adalah untuk melakukan pembelajaran diluar sekolah (Outing), yang bertujuan untuk belajar melakukan asesmen kondisi panti/balai tentang jalur evakuasi, titik kumpul, kelengkapan dan kesiapannya dalam merespon bencana yang sewaktu-waktu terjadi. Kemudian yang kedua, bertujuan untuk menumbuhkan sikap peduli terhadap sesama. Rombongan disambut oleh Suparmin, MPSSp selaku Kepala Balai, sekaligus mendapatkan penjelasan tentang pelayanan yang dilakukan oleh salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pada Dinas Sosial DIY, ini. Ia menggambarkan bahwa Balainya melayani 112 anak. Bebarapa anak yang sebelumnya dalam kondisi terlantar/ditelantarkan tersebut di karenakan ada orang tua dari anak-anak/PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejateraan Sosial) yang sengaja membuangnya sejak bayi, ada juga karena orang tua mengalami gangguan jiwa, ada juga yang bercerai dan kemudian meninggalkan buah hatinya begitu saja. Suparmin mengungkapkan, betapa beruntungnya anak-anak di luar panti/balai yang mendapatkan perhatian lengkap dari orang tuanya, di sekolahkan dengan baik, dipenuhi segala kebutuhannya dengan kasih sayang dan penuh tanggung jawab. Maka bersyukurlah adik-adik Satriyo nasibnya lebih baik dan beruntung, oleh karenanya wujudkan rasa syukur itu dengan peduli terhadap sesama, contohnya dengan menabung sehari lima ratus rupiah sampai dua ribu rupiah, di akhir tahun hasilnya bisa disumbangkan ke panti asuhan yatim piatu atau diberikan kepada tetangga yang hidupnya miskin dan kekurangan, imbuhnya. Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga diberi kesempatan untuk melihat langsung ruang pelayanan bagi anak-anak dan berdialog langsung dengan mereka. Tak sedikit peserta, baik dari Satriyo maupun guru pendamping yang terharu dan menitikkan air mata mendengar cerita latar belakang dari anak-anak penghuni BRSPA.

Sahabat Tagana Junior Istimewa Yogyakarta (SATRIYO) merupakan pengembangan program Tagana Masuk sekolah (TMS) dengan penguatan personal dalam membangun kesiapsiagaan terhadap bencana di lingkungan Sekolah, yang diperuntukkan bagi siswa Sekolah Dasar dengan metode pengenalan jenis bencana dan upaya pengurangan resiko bencana, sehingga diharapkan mampu membentuk dan mengarahkan kesadaran siswa tentang bencana. Pembentukan SATRIYO minimal beranggotakan 30 siswa dalam satu sekolah, sebagai contoh bagi siswa yang lain di sekolah tersebut pada saat terjadi bencana. Pada momentum peringatan Hari Ulang Tahun Tagana ke-18 (Maret 2022) tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas Sosial DIY meluncurkan progam Sahabat Tagana Junior Istimewa Yogyakarta (SATRIYO) pertama kali, dengan memilih lokasi di SDN Bakulan, Patalan, Jetis Bantul sebagai tempat diselenggarakannya rangkaian kegiatan pembentukan. Pembekalan yang dilakukan Dinas Sosial DIY melalui Tagana kepada siswa Satriyo meliputi penanaman dan pemahaman tentang lingkungan sekolah serta lingkungan sekitarnya terhadap ancaman suatu bencana, dengan demikian siswa memiliki kemampuan melindungi diri. Hal ini penting dilakukan mengingat anak-anak termasuk dalam kelompok rentan. Selanjutnya Satriyo juga dibekali dengan pengetahuan dasar kesamaptaan, pengenalan tentang Tagana, jalur evakuasi, titik kumpul dan perbekalan (APD), yang kemudian disimulasikan untuk mendapatkan gambaran cara menyelamatkan diri sendiri, membantu temannya dan bisa meminta tolong.

Kegiatan outing kedua dilaksanakan di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) yang berada di Srihardono, Pundong, Bantul. Dalam sambutannya, Peni Sumarwati, S.Psi selaku kepala balai menyampaikan terima kasih atas kunjungan dari Satriyo, hal ini menjadikan kami semakin semangat dan bahagia, karena hari ini adalah peringatan hari disabilitas, momentum untuk saling belajar tentang keberagaman disabilitas, selain daripada kesempatan untuk menggugah kepekaan, kepedulian, dan tenggang rasa dalam menumbuhkan jiwa sosial sejak dini, tuturnya. Masda, selaku pekerja sosial lebih lanjut dalam pemaparannya tentang siswa/penghuni balai, menerangkan bahwa seorang penyandang disabilitas adalah seseorang yang memiliki kendala atau gangguan pada fungsi tubuhnya. Ia juga menjelaskan apa saja ragam disabilitas, seperti yang disampaikan oleh Ibu Kepala dalam sambutannya, yaitu meliputi disabilitas fisik (memiliki kendala pada fungsi gerak tubuhnya), mereka harus menggunakan alat bantu untuk beraktifitas, seperti kursi roda, tongkat, kruk, kaki palsu, tangan palsu. Disabilitas intelektual (mengalami gangguan berfikir), disabilitas mental (gangguan kejiwaan), dan disabilitas sensorik (netra dan rungu wicara). Walaupun kondisi disabilitas berbeda, mereka sama dengan kita, tetap saling berkomunikasi, berinteraksi, dan mempunyai rasa, khusus untuk rungu wicara menggunakan bahasa isyarat.

Satriyo juga diberi kesempatan untuk belajar berinteraksi dengan penyandang disabilitas netra, bahwasannya sebelum membantu, Satriyo harus memperkenalkan diri, kemudian arahkan ke lengan sebagai pegangan penyandang disabilitas netra, dan tidak lupa untuk menjelaskan kondisi sekitar/jalan yang dilalui, kemudian untuk jalan sempit dan berjalan sebaris maka Satriyo harus melipat salh satu lengannya kebelakang untuk dipegang penyandang disabilitas netra. Termasuk juga bekal untuk berintaraksi dengan rungu wicara, antusias Satriyo nampak saat dikenalkan dengan alphabet bahasa isyarat, sapaan selamat pagi, siang, sore, dan malam. Hingga kegiatan usai dan kembali ke sekolah, baik Satriyo maupun guru pendamping merasa terkesan menyatakan rasa terima kasihnya telah diberi kesempatan untuk belajar di luar sekolah dengan mengunjungi panti/balai di lingkungan Dinas Sosial DIY. Sebelum berpamitan, Sigit Alifianto, SE, MM selaku Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial DIY, yang juga merupakan Pembina Teknis Tagana di DIY, memberikan arahan bahwa setelah Satriyo terbentuk, maka langkah pembinaan dan pengembangannya diserahkan kepada Dinas Sosial beserta Tagana di Kabupaten/Kota.

Dokumentasi Dinas Sosial DIY

=============

AC

Tentang penulis