SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

KETIKA KLIEN BALAI PSTW JALAN-JALAN

(Last Updated On: 24 Juli 2019)

Betapa senangnya mengajak simbah-simbah ini jalan-jalan di lingkungan Balai menuju ke titik lokasi wisata terdekat, sekitar ¾ km dari Balai kami. Sampai di lokasi bisa leyeh-leyeh (bermalas-malasan), menikmati sajian khas pedesaan, yaitu gedhang godhog (Pisang Rebus), Bakwan, dan Blanggreng Goreng (Singkong rebus yang digoreng merekah) yang semua disajikan panas-panas. Lengkap di suasana kaki merapi di Pakem yang saat pagi itu dingin, matahari tak nampak, di lingkunan taman yang penuh dengan bunga-bunga bermekaran….Aduhai.

Barangkali melihat kebahagiaan lansia ini, siapapun akan berfikir bahwa begitu gampang dan nikmatnya menjadi petugas lansia. Benarkah demikian? Mari kita lihat prosesnya.

Pagi hari sekitar jam 8 kami mempersiapkan simbah-simbah. Ada yang seragamnya salah, ada yang lengkap bawaanya mulai dari tongkat dan payung. Ada yang nggembol tas besar. Wah..memangnya mau mudik.

Simbah-simbah diperintah berbaris dua berbanjar. Maksudnya nanti jika melintasi jalan bisa tertib tidak terlalu mengganggu lalu lintas kendaraan. Eeh, itu pun butuh waktu seperempat jam. Ada yang melamun. Ada yang berjejer tiga tapi tidak merasa bersalah. Wajahnya datar saja. Ada yang tidak masuk barisan dan malah melihat lainnya berbaris. Belum lagi ketika dikomando untuk hadap atau balik. Simbah tidak bisa membedakan antara balik kanan dan hadap kanan. Mubeng-mubeng dan saling menyalahkan satu sama lain. Ambyar….

Setelah berdoa, maka mulailah iring-iringan sekitar 30an lansia itu melangkah keluar dari pintu gerbang. Di belakang lansia-lansia yang dikawal sekitar delapan petugas, ada ambulans dan motor yang siap siaga andaikata ada lansia yang tidak kuat.

Belum tiga empat meter dari pintu gerbang, barisan sudah ambyar lagi. Ada yang putus di tengah, ada yang menggrombol, ada yang berisik satu sama lain. Ingin ku teriak tapi apa daya, takut dosa. Kami segenap petugas harus menenangkan diri. Wajah harus tetap sumringah, membahagiakan diri dan disabar-sabarkan.

Melewati jalan, memasuki kawasan pesawahan menuju ke titik lokasi kumpul yang dilengkapi kebun bunga, itu menjadi titik was-was kami berkurang karena simbah bisa “dilepas” melihat-lihat lingkungan, berfoto bareng, menuju kamar kecil, sampai kemudian duduk menikmati hidangan yang tersedia.

Tapi ya ada saja yang “nyeleneh”, memisahkan diri dari rombongan pengen difoto sendiri. Oh tidak bisa. Tidak kami lulusan permintaanya. Nanti kalau diluluskan, semua simbah minta hal yang sama.

Tetapi di tengah rata-rata mereka yang berbahagia, ada saja keluhan,”wedang jahenya kepedasan”. Duh..kamk tahu persis lansia itu biasa tahan makanan pedas. Jadi tidak mungkin wedang jahe anget seperti ini kepedasan. Tapi ya sudahlah. Sampai akhirnya satu gelas itu hanya ditempel bibir, tidak bisa diminum yang lain karena sudah terkontaminasi air liur.

Kalau soal makanan sih rata-rata lansia rata-rata licin tandas. Bahkan diantara mereka ada yang barter: yang suka bakwan tapi tidak terlalu suka pisang rebus, bertukar dengan temannya yang sebaliknya.

Nah maksud hati agak lama menikmati suasana biar simbah-simbah bisa ambil nafas ataupun jalan-jalan di daerah wisata, eeh setelah makan habis sudah pada gelisah pengen pulang. Duh, padahal petugas-petugas masih belum kelar mengistirahatkan bokong dan mengurus administrasi, saya sendiri harus cepat-cepat pakai sepatu sebelum siatuasi simbah tidak terkendali. Harus sigap untuk membariskan seperti semula. Karena kalau tidak dibariskan, beberapa simbah sudah tidak peduli dan maunya pulang.

Di tengah acara penertiban simbah untuk berbaris, eeh ada salah satu simbah yang tergesa-gesa masuk ke selokan dengan air bening gemericik mengalir di area lokasi. Apa yang terjadi saudara-saudara? Simbah ini siap memelotrokkan kathoknya untuk jongkok melepas beban hidupnya. BAB ataupun BAK. Untunglah kejadian yang tidak diinginkan itu dapat segera petugas kendalikan untuk diarahkan ke toilet terdekat.

Lagi-lagi suasana membariskan simbah ini tidak terlalu berjalan lancar karena ada saja simbah yang mlipir, mendadak pengen pipis, ataupun tergesa pengen pulang.

Setelah berjalan dengan penertiban yang ketat, simbah sampai ke Balai lagi. Itu pun dengan kejadian yang bikin was-was karena bukannya menyeberang jalan sesuai dengan jalur barisan, tetapi ambyar sendiri-sendiri memenuhi jalan. Untunglah tidak ada kendaraan yang melintas ketika itu. (*)

Yaa begitulah. Membahagiakan lansia itu … percayalah, tidak mudah. Tapi bikin bahagia kok. Percayalah. (*)

0 0 votes
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Diskusi
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar