....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

SATRIYA....Selaras-Akal Budi Luhur-Teladan-Rela Melayani-Inovatif-Yakin dan Percaya Diri-Ahli Profesionalitas

Saresehan dan Pentas Seni Program RESTORASI SOSIAL GERBANGPRAJA

(Last Updated On: 15 Mei 2019)

Kamis, 9 Mei 2019 bertempat di halaman Dinas Sosial DIY telah dilaksanakan Saresehan dan Pentas Seni Program Restorasi sosial Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa nggugah rasa Sithik Edhing Lumantar Aksara. Acara ini merupakan internalisasi Gerbangpraja dan sekaligus Buka puasa bersama. Restorasi Sosial dengan tema gerbang praja bermaksud untuk menguatkan kembali Pancasila sebagai dasar Filsafat negara, membebaskannya dari stigma, serta diberi ruang yang cukup dalam merespon tantangan perubahan zaman untuk membangun perdamaian dan karakter bangsa melalui pengambangan budaya. Kegiatan restorasi sosial Gerbangpraja dengan sub tema nggugah rasa Sithik Edhing Lumantar Aksara bertujuan mengembalikan dan menumbuhkan kembali budaya damai dan berkarakter pada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia, kearifan lokal seperti budaya gotong royong dalam masyarakat agar senantiasa dapat mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, melakukan dan mewariskan.
Sarasehan ini dihadiri oleh ASN dan non ASN baik di lingkungan Dinas Sosial DIY dan UPTD Dinas Sosial DIY. Acara yang menghadirkan tiga narasumber ini kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Adapun 3 narasumber tersebut adalah

  1. Drs. Untung Sukaryadi, MM : Program Restorasi Sosial GERBANGPRAJA Sub Tema Nggugah Rasa Sithik Edhing Lumantar Aksara.
  2. Drs. Bambang Wisnu Handoyo : Respon dan Kondisi Generasi Muda terhadap Aksara Jawa dan Dampak Sosialnya.
  3. KPH Yudhahadiningrat : Peran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai Pusat Bahasa Jawa. Sejarah Kraton dan perkembangannya.
    Antusias peserta menjadikan acara dapat berlangsung dengan lancar sesuai harapan. Acara inti diawali oleh materi yang disampaikan oleh bapak Untung Sukaryadi. Beliau menyampaikan bahwa tindak lanjut dari Gerbangpraja yang sudah dicanangkan sejak tahun 2018, sudah ada langkah-langkah strategis dari pemerintah daerah Daerah istimewa Yogyakarta yaitu pertama persiapan membuat peraturan gubernur DIY tentang tata naskah untuk aksara jawa, kedua pergub DIY tersebut akan disusun menjadi Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat ini panitia khusus telah mengumpulkan Dinas terkait untuk melakukan studi komparasi di luar DIY dalam rangka penerapan aksara jawa sebagai alat komunikasi tertulis yang legal di Yogyakarta. Kemudian beliau juga menyampaikan bahwa yang dikehendaki dari suatu restorasi sosial adalah generasi penerus dengan suatu modernisasi terjebak dalam suatu pergaulan yang tidak mengenal jatidiri, sehingga restorasi sosial itu akan kita kembalikan agar semangat sosial Yogyakarta yang tujuan terakhir adalah membangun generasi modern yang njawani. Njawani ini memiliki kehendak harmonis, memiliki suatu toleransi dalam bahasa jawa adalah tepo seliro yang selanjutnya memiliki watak edhing. Sithik edhing yang kemudian perlu terinternalisasi dalam hidup bermasyarakat. Sithik Edhing memiliki dua hakekat yaitu menghindari adanya tirani minoritas dan dominasi mayoritas atau yang lebih mudah dipahamkan dengan jargon pokoke. Harapan beliau dari restorasi sosial Gerbangpraja adalah aksara jawa dapat menjadi alat komunikasi yang sah. ASN yang bekerja di Yogyakarta harus dapat menggunakan bahasa jawa ungkap beliau dengan penuh semangat.
    Selanjutnya, acara yang dimoderatori Sdri Eka Anisa Sari juga menghadirkan bapak Bambang Wisnu handoyo untuk menyampaikan materinya. Beliau menggugah peserta dengan pertanyaan, apakah saat ini sebagian saja dari peserta menggunakan bahasa jawa sebagai komunikasi dalam keluarga?. Generasi muda saat ini mengapa lebih mempedulikan kepada bahasa non jawa. Sehingga pada kesempatan ini mengajak kepada semua pihak untuk tidak meninggalkan budaya bangsa. Tegas disampaikan bahwa Dinas Sosial DIY berperan untuk memberikan gerakan sebelum ada regulasi yang bersifat resmi. Dalam penutup materi beliau tuturkan tidak butuh suara banyak untuk merubah perilaku tetapi satu kata hati YA untuk aksara jawa. Tepuk tangan pun riuh seiring berakhirnya materi dari bapak Bambang Wisnu Handoyo beliau adalah ketua Badan Pengelola Keuangan dan Aset DIY.
    Kemudian terakhir yang tidak kalah menarik adalah penyampaian materi dari KPH Yudhahadiningrat, beliau pernah menjadi Ketua Tim Negosiasi Peralatan Perang Angkatan Darat. Setelah purnatugas beliau menjadi abdi dalem. Alasan beliau adalah sudah sekian lama dalam dunia militer yang penuh kekerasan kemudian beliau tertarik menjadi abdi dalam pada tahun 2005 di bagian SDM Kraton dan Pusat Data Kraton. Masyarakat yang hendak berkunjung dan mengetahui tentang informasi Kraton dapat mengunjungi web kraton.jogja.id . beliau dalam kesempatan ini, menyampaikan lingkup dimana penggunaan aksara jawa dapat dipraktekkan, yaitu Sekolah, Rumah dan perkantoran. Dalam instansi pemerintah setiap hari jumat memiliki aturan untuk menggunakan bahasa jawa tetapi dalam pelaksanaannya baik di kantor tingkat pemerintah daerah DIY ataupun di tingkat kab/kota belum menerapkan peraturan tersebut, demikian halnya terkait penggunaan busana yang belum tepat dikenakan oleh jajaran ASN. Penulis buku ilmu kaweruh dan wawasan budaya daerah istimewa yogyakarta ini juga menyampaikan bahwa buku tersebut adalah pegangan kepala desa dan kepala dukuh sejumlah 150. Buku ini berisi wawasan budaya DIY, berasal dari manakah budaya DIY semua ditulis mengacu pada UU Keistimewaan Pasal 5 yang mengatakan tujuan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu pelembagaan peran dan tanggung jawab Kasultanan dan kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa sebagaimana dimaksud diwujukan melalui pemeliharaan, pendayagunaan serta pengembangan dan penguatan nilai-nilai, norma, adat istiadat dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY.
    Waktu semakin mengantarkan kepada tenggelamnya mentari, 30 menit sebelum waktu berbuka puasa dilaksanakan tausiyah oleh materi yang disampaikan masih terkait dengan budaya jawa dan aksara jawa. Acara pun kemudian berakhir setelah terdengar adzan maghrib. Doa dipanjatkan dari seluruh peserta agar segala amal ibadah dapat diterima oleh Nya. Kemudian peserta shalat maghrib dan buka puasa bersama. Suasana Ramadhan penuh berkah, berkah dalam kesempatan untuk mempertahankan dan memajukan kebudayaan.
narasumber bapak Bambang Wisnu Handoyo (tengah) dan KPH Yudhahadiningrat
penyematan PIN GERBANGPRAJA secara simbolis

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalas sesegera mungkin. Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.