SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

GOOD PARENTING BRSPA: PARENTAL CONTROL, PANTAU AKTIVITAS GADGET ANAK

(Last Updated On: 20 October 2022)

Apa yang harus dilalukan oleh para orang tua ketika anak akrab dengan gadget? Bagaimana caranya membatasi penggunaan HP? Ketika zaman bergerak cepat, tantangan pengasuhan anak pada masa sekarang semakin berat. Khususnya karena perkembangan teknologi informasi berbasis HP yang sudah sangat akrab dengan anak. Pada masa pandemi, HP yang pada masa sebelumnya relatif berjarak dengan anak-anak, berubah menjadi perangkat wajib untuk proses pembelajaran di rumah atau yang dikenal dengan belajar daring. Dampaknya, pada masa sekarang, anak-anak sulit untuk dipisahkan dengan perilaku menggunakan gadget ataupun HP.

Dampak dari akrabnya anak menggunakan HP dirasakan pula di Balai RSPA. Anak asuh Balai RSPA yang tadinya dibatasi dengan ketat penggunaan HP-nya, terdampak dengan efek pandemi. Pembelajaran dan informasi dari sekolah dikirim lewat pesan singkat di HP ataupun ruang belajar virtual seperti Google Classroom. Jika tidak diawasi dengan baik, anak-anak akan menyalahgunakan perangkatnya untuk tujuan lain selain pembelajaran seperti bermain game, bersosial media, bahkan bisa jadi menonton konten dewasa yang rentan dengan pornografi dan kekerasan.

Untuk menjawab persoalan itu, Balai RSPA mengadakan acara Good Parenting pada hari Selasa,18 Oktober 2022 dengan tema: “Parental Control – Pantau aktivitas Gadget Anak.” Bertempat di Ruang CC Balai RSPA Unit Bimomartani, acara ini diisi dengan pelatihan pemanfaatan perangkat lunak parental control, serta motivasi bagi orang tua dan pengasuh anak agar bijak dalam mendampingi anak menggunakan gadget.  Hadir dalam acara ini 50 peserta yang terdiri dari ASN, Tenaga Bantu, Cleaning Service dan Security. Kehadiran banyak peserta dirasa penting karena persoalan gadget anak tentunya bukan hanya dilihat dari persoalan anak Balai RSPA semata, tetapi merupakan permasalahan keluarga pada umumnya.

Pelatihan penggunaan perangkat lunak (software) parental control diisi oleh Feriawan Agung Nugroho, S. Sos., MPA, pekerja sosial BRSPA,  yang memperkenalkan Google Family Link sebagai salah satu parental control software. Google Family Link adalah perangkat lunak yang dibuat oleh Google yang bisa diperoleh gratis di Playstore. Keunggulan perangkat lunak ini adalah pertama, orang tua bisa melakuka pembatasan penelusuran ataupun googling pada HP anak. Googling merupakan pintu gerbang bagi anak untuk mengakses situs-situs yang diinginkannya. Orang tua bisa mensetting peramban di HP anak untuk selalu dalam mode aman dan anak tidak bisa mengubah sepihak. Kedua, orang tua bisa membuat pembatasan waktu penggunaan HP, membatasi pemasangan atau penginstalan aplikasi dan game, penghentian aplikasi dan game yang tak dikehendaki. Juga pembatasan maksimal penggunaan HP. Ketiga, melacak lokasi. Terakhir, mengevaluasi penggunaan smartohone dari grafik penggunaan HP anak pada tiap periode. Meskipun banyak pilihan perangkat lunak parental control, Google Family Link adalah pilihan terbaik untuk digunakan.

Setelah memberikan tutorial singkat, peserta dipandu untuk menginstal dan menggunakan Google Family Link oleh Feriawan. Jika sudah dipahami, tindak lanjut dari pertemuan ini adalah agar semua anak yang diasuh di BRSPA yang memiliki HP bisa dikendalikan penggunaanya dengan Google Family Link yang terinstal di HP petugas.

Dalam kesempatan yang sama Kepala BRSPA, Suparmin, MPSSp., memberikan arahan agar semua peserta yang hadir bisa menguasai penggunaan perangkat lunak parental control seperti Google Family Link.  Penggunaan perangkat ini adalah salah satu ikhtiar bagi tiap orang tua agar anak tidak terkena dampak negatif dari penggunaan HP. Orang tua tidak boleh menyerah dengan alasan gaptek ataupun tidak menguasai IT, karena risiko penggunaan HP atau HP yang salah pada anak dapat berdampak serius bagi masa depannya.

“Kita memang tidak bisa mengabaikan manfaat ataupun dampak positif dari HP bagi anak-anak. Orang tua memiliki keterbatasan pengetahuan, waktu dan kemampuan untuk menjawab rasa ingin tahu anak pada masa belajarnya. HP memungkinkan anak untuk mendapatkan pengetahuan lebih luas dan lebih bervariasi. Dampak positifnya nyata. HP dengan berbagai aplikasi di dalamnya mampu merangsang anak untuk berpikir kreatif, menjadikan anak lebih kritis, merangsang kemampuan motoriknya, pintar memilah dan memilih informasi, dan memberikan kemudahan berkomunikasi agar lebih intens. Tetapi dampak negatifnya perlu menjadi perhatian. Dampak negatif itu seperti: gangguan perilaku, kecanduan gadget, ancaman serius cyberbullying, gangguan tidur, obesitas, gangguan otak kanan, gangguan penglihatan, penurunan imunitas, sakit kepala, mudah capek, kurangnya interaksi sosial, kurang fokus, risiko sakit leher dan punggung , dan juga stress serta konflik keluarga,” papar Suparmin.

Untuk mengatasi dampak negatif itu, Suparmin memberikan tips dan trik penggunaan gadget pada orang tua seperti memberi contoh dengan tidak menggunakan gadget di depan anak, membelikan gadget pada anak ketika usia 16 tahun ke atas, memastikan gadget tidak digunakan anak di malam hari, memberikan anak alternatif kegiatan menyenangkan seperti melukis dan bermain di tempat terbuka, melakukan aktivitas fisik, dan salah satu yang penting adalah dengan memasang perangkat lunak parental control di HP anak.

“Kasus kecanduan gadget sudah banyak. Laporan dari beberapa puskesmas tentang anak yang penglihatannya terganggu sampai dengan diduga mengalami kebutaan karena HP sudah ada. Orang tua harus ekstra waspada. Jangan sampai itu terjadi pada anak-anak kita”, tandas Suparmin.(Fer)