SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

TIDAK ADA KATA TIDAK BISA DAN SULIT, SEPANJANG KITA MAU

(Last Updated On: 23 September 2022)
Dokumentasi Dinas Sosial DIY

Memetik kalimat pusaka Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih, SH, M.Si saat hadir memberi arahan dan membuka kegiatan Peningkatan Kapasitas Sahabat Tagana, Selasa 20 September 2022 di Hotel Prime Plaza, yang mengajak untuk bekerja dengan hati, dimanapun kita berada, agar hadir kepekaan sehingga terbangun kepedulian dalam membantu sesama. Selain itu semangat juga menjadi terjaga serta tidak terdampak stress dan senep, meski disadari semangat itu pasang surut dan menular. Sikap terbuka terhadap pandangan orang, adalah sikap kedewasan yang membutuhkan proses, perlu diawali dengan disiplin tinggi, optimal dalam berbuat, memiliki integritas, dan inisiatif untuk maju. Menurutnya lebih lanjut, bahwa capaian-capaian yang sudah kita dapat, perlu disyukuri dan tingkatkan. Prestasi yang sudah diraih itu tidak mudah, perjalanan cukup panjang. Profesionalitas menjadi tantangan karena seorang individu harus bisa bagaimana memilah pekerjaannya dengan masalah dirumah. Apalagi koordinasi, komunikasi memang gampang diucapkan, oleh karenanya bangun kebersamaan dengan menjalankan tugas masing-masing dengan sengguh-sungguh dan tanggung jawab. Tagana sebagai Gugus tugas Penanggulangan Bencana yang dimiliki Dinas Sosial, dan Difagana sebagai sahabatnya dalam berkiprah bersama masyarakat dalam upaya pengurangan resiko bencana, tanggap darurat, dan pemulihan, harus senantiasa meningkatkan kapasitas, sebagai bekal dan rujukan dalam melangkah. Apa yang dihadapi adalah masalah dan orang-orang yang membutuhkan untuk dibantu. Tidak ada kata tidak bisa dan sulit, sepanjang kita mau, tuturnya penuh semangat, yang direspon dengan gemuruh tepuk tangan peserta.

Dokumentasi Dinas Sosial DIY

Kegiatan yang di selenggarakan oleh Dinas Sosial DIY, mulai hari Senin 19 September sampai dengan Kamis 22 September 2022, di ikuti oleh 25 orang yang terdiri dari 21 anggota Difabel Siaga Bencana (Difagana), 2 anggota FK Tagana DIY, dan 2 orang pendamping dari Juru Bahasa Isyarat, yang digantikan oleh pendamping dari Dinas Sosial DIY karena kegiatan JBI yang bersamaan baik skala daerah maupun nasional. Penyelenggaraan kegiatan mempunyai maksud sebagai wujud penghargaan kepada Sahabat Tagana khususnya terhadap eksistensi Difagana, sekaligus sebagai upaya pembinaan dan peningkatan kemampuan personal, dengan tujuan menjadikan Difagana sebagai relawan penanggulangan bencana yang memiliki dedikasi, loyalitas, dan komitmen. Memperkaya wawasan/pengetahuan dan ketrampilan Sahabat Tagana khususnya anggota Difagana dalam perannya mendukung Tagana melaksanakan progam pelayanan, pemberdayaan masyarakat, kegiatan pengurangan resiko bencana, dan penanganan bencana khususnya dalam hal manajemen pengungsian. Diharapkan pula melalui kegiatan ini Difagana mampu memberikan penyuluhan dan mempunyai kemampuan beradaptasi dan bekerjasama dengan Tagana dalam sebuah tim, utamanya menjadi relawan yang survive terhadap lingkungan pasca bencana terjadi, serta mengintegrasikan pola penanggulangan bencana yang mengimplementasikan Klaster Pengungsian Perlindungan dan Logistik.

Menilik pada sejarah terbentuknya Difagana, inisiasinya diilhami kejadian pasca bencana erupsi Gunung Merapi Tahun 2010, yang pada waktu itu Dinas Sosial DIY menyelenggarakan program pendampingan sosial korban bencana. Hasil evaluasi program menemukan ketidakpuasan para penyandang disabilitas korban bencana terhadap kinerja sukarelawan dan pendamping sosial yang bukan penyandang disabilitas. Mereka dianggap kurang mampu memahami, mengomunikasikan, dan memetakan dengan baik kebutuhan kaum disabilitas korban bencana. Di sisi lain, selama ini kelompok penyandang disabilitas hanya menjadi objek pemberian layanan atau bantuan karena dipandang sebagai salah satu kelompok rentan. Penyandang disabilitas masih dianggap sebagai pihak yang tidak berdaya ketika terjadi bencana, yang didasari kosep “peer to peer” yaitu memberdayakan difabel untuk keberdayaan sesama penyandang disabilitas. Difabel dinilai memiliki potensi, lebih memiliki empati, komunikatif dan responsif terhadap kebutuhan sesamanya jika dibekali pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian, penyandang disabilitas yang terdampak bencana pun dapat memperoleh akses layanan yang setara dan tepat.

Dalam pengembangannya, Dinas Sosial DIY menginisiasi regulasi berupa Perda dan Pergub, serta Keputusan Kepala Dinas tentang Road Map Penanggulangan Bencana Berbasis Inkusi dengan salah satunya dengan menargetkan penambahan personel Difagana. Estafet kepemimpinan yang baik serta kolaborasi dengan berbagai stakeholder menjadi faktor penting untuk menjaga eksistensi Difagana. Terlebih di tahun 2022 ini, Difagana masuk menjadi inovasi terpuji Top 45 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik yang diadakan Kementerian PAN-RB. Tak heran bila Sahabat Tagana, khususnya anggota Difagana kini mau tidak mau harus mengikuti perkembangan untuk senantiasa mengasah ketrampilan, membangun integritas, dan menguatkan komitmennya dengan memadukan pada pola dan irama pembinaan yang ada di Dinas Sosial DIY, sesuai pedoman dalam ketentuan perundang-undangan.

Para pemateri yang hadir dalam kegiatan ini merupakan narasumber eselon dua dan tiga, baik yang berasal dari pusat (Kemeneterian Sosial RI), lokal (Pembina dan NGO) serta instruktur dari FK Tagana DIY. Materi yang diangkat selain tentang penguatan spirit dan etos kerja juga menyangkut tentang skema koordinasi, progam yang mendukung pada upaya penanggulangan bencana Bidang Perlindungan Sosial, dan tahapan penanganan tanggap darurat khususnya dalam Klaster Pengungsian Perlindungan dan Logistik, serta tidak ketinggalan adanya praktek lapangan tentang Pengelolaan Dapur Umum, juga tentang kemampuan mendirikan tenda sebagai bagian dari pengenalan tentang Manajemen Pengungsian dengan hunian sementara bagi warga terdampak bencana.

=================

AC