SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

SINERGITAS DINAS SOSIAL DIY – HUMANITY INCLUSION DALAM MEWUJUDKAN INKLUSIFITAS DAN ADAPTIF DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

(Last Updated On: 13 December 2021)
Dokumentasi oleh DInas Sosial DIY

Daerah Istimewa Yogyakarta selalu menjadi tolak ukur keberhasilan kebijakan di Indonesia, salah satunya adalah dalam hal penanggulangan bencana. Dinas Sosial DIY sebagai koordinator klaster pengungsian dan perlindungan sosial adalah satu wilayah yang gencar menyerukan penerapan inklusifitas, dalam tahapan penanggulangan bencana, baik pra bencana, saat terjadinya bencana dan paska bencana.

Untuk itulah Humanity Inclusion bersinergi dengan Dinas Sosial DIY menyelenggarakan rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas bagi petugas perlindungan sosial yang dibina Dinas Sosial baik tingkat DIY, Kabupaten/Kota yang meliputi personil dari unsur Taruna Siaga Bencana (Tagana), Pelopor Perdamaian, Kampung Siaga Bencana (KSB), Pramuka Siaga Bencana (Pragana), Difabel Siaga Bencana (Difagana) dan RAPI Siaga Bencana (Rapigana). Bertajuk Peningkatan Kapasitas Kesiapsiagaan Petugas Perlindungan Sosial Dalam Penanggulangan Bencana Lebih Inklusif dan Adaptif Pandemi Covid-19, diselenggarakan rangkaian kegiatan berupa lokakarya, training of trainer (TOT) dan pelatihan bagi unsur relawan di Kabupaten/Kota.

Jumat 10 Desember 2021, Sigit Alifianto, SE, MM selaku Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos DIY) Dinas Sosial DIY berkesempatan membuka pelaksanaan training of training (TOT) bagi 30 personil yang nantinya akan menjadi narasumber/pelatih pada kegiatan pelatihan penanganan penanggulangan bencana yang lebih inklusif dan adaptif pandemi Covid-19 di Kabupaten/Kota nantinya. Berlokasi di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras (BRSBKL) Sidomulyo, Bener, Tegalrejo Yogyakarta, Sigit menyampaikan dalam sambutannya untuk bisa Disiplin butuh latihan dan tekad. Untuk menguatkan tekad perlu paham dan mengerti tugas dan kewajibannya. Untuk paham perlu belajar, memperkuat pengetahuan dan rutin berlatih. Oleh karenanya setiap personil kami harapkan benar-benar bersungguh sungguh menjalani setiap proses demi proses pembelajaran dan pelatihan. Ini penting sebagai bekal dalam melaksanakan tugas di lapangan.

“Kita harus ingat, koordinasi di lokasi bencana seperti arah mata angin. Setiap waktunya bisa berubah. Untuk itu perlu kesigapan dalam menyesuaikannya. Jangan cugetan, jangan patah arang. Apapun yang terjadi dilapangan, respon dengan cerdas. Cerdas bersikap, cerdas berkomunikasi dan mengambil langkah terukur dan terkoordinasi. Bukan sikap yang pintar beralasan, pintar berkelit dan mencari celah pembenaran” tuturnya.

Lebih lanjut disampaikannya, kita harus belajar dari Semeru, tentang proses sosialisasi ke masyarakat tentang pengurangan resiko dampak erupsi gunung berapi, jauh-jauh hari pada kondisi normal. Petugas perlindungan sosial harus bisa memetakan wilayahnnya, mana lokasi yang belum teredukasi dan sudah teredukasi kedaruratan bencana. Terlebih pemetaan sumber daya penanggulangan bencana. Perhatikan juga saat bertugas sebagai narasumber, hendaknya menggunakan kalimat yang sederhana dan lugas, sehingga mudah dipahami masyarakat. Juga jadilah teladan dalam penerapan prosedur kesehatan ditengah pandemi Covid-19, pungkasnya.

Tim yang mengikuti TOT, selanjutnya akan ditugaskan untuk memberikan materi inklusifitas dan adaptif pada pelatihan bagi unsur relawan di sembilan angkatan pada tanggal 18-19 Desember 2021 dan 8-9 Januari 2022. Turut hadir dalam kegiatan ini para konsultan dari Humanity Inclusion (HI) dan konsultan dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB). Dengan cakupan materi yang diberikan meliputi Kelompok Rentan dalam Penanggulangan Bencana, Dasar Inklusifitas, Disabilitas, Etiket Berinteraksi dengan Kelompok Rentan, Aksesbilitas dan Adaptif, serta Implementasi pada tahap penanggulangan bencana melalui progam penyuluhan di Tagana Masuk Sekolah (TMS), Tagana Masuk Komunitas (TMK), penguatan berbasis masyarakat melalui progam Kampung Siaga Bencana (KSB), dengan fokus penanganan darurat di pengelolaan pengungsian, dan pendampingan pasca bencana melalui progam Layanan Dukungan Psikososial (LDP).

AC

5 1 vote
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Diskusi
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar