SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

Sambut Hari Disabilitas Internasional, Mari Lebih Peka dan Peduli Keberadaan Penyandang Disabilitas

(Last Updated On: 30 November 2020)

Tak lama lagi, tanggal 3 Desember 2020, Hari Disabilitas Internasional diperingati. Di Indonesia, melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia, peringatan hari disablitas pada tahun ini mengusung tema Not All Disabilities Are Visible, tidak semua disablitas terlihat. Tema tersebut memberi pesan mendalam. “Semangat besarnya, ingin mendorong agar masyarakat lebih peka dan peduli kepada penyandang disabilitas,” kata Kepala Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Srihardono, Pundong, Bantul, Peni Sumarwati S.Psi, mengawali cerita kepada Tribun Jogja, Jumat (27/11/2020).

BRTPD di Srihardono, Bantul merupakan unit pelaksana teknis dibawah naungan Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta. Fungsinya untuk memberikan perlindungan sosial, rehabilitasi sosial, dan rehabilitasi medik, termasuk didalamnya ada pelatihan ketrampilan untuk penyandang disablitas netra, grahita, daksa dan rungu wicara. UPT ini juga memberikan layanan kepada wreda penyandang disabilitas. Selain itu, terdapat layanan day care (tidak menginap)  untuk mereka yang  memerlukan rehabilitasi medik semisal fisioterapi ataupun terapi okupasional.

Peni mengatakan, peringatan hari disabilitas internasional adalah momentum baik supaya masyarakat lebih peka dan peduli dengan keberadaan penyandang disabilitas. Terutama yang ada dilingkungan masing-masing. Apalagi, dalam situasi pandemi saat ini. Menurutnya, disabilitas adalah salah satu kelompok rentan terpapar. Sebab, ketidak-pahaman mereka mengenai bahaya coronavirus disease-2019 atau (Covid-19).Karena itu, masyarakat diharapkan lebih sadar dengan memberikan akses fasilitas dan sarana kepada para penyandang disabilitas. “Agar mereka dapat menerapkan protokol kesehatan dalam situasi sulit ini,” ucapnya.

Selain itu, bagi keluarga yang memiliki anak disabilitas dimohon agar jangan sampai disembunyikan. Sebab, kata Peni, saat ini dimasyarakat masih dijumpai keluarga yang malu ketika ada anaknya berkebutuhan khusus sehingga terpaksa disembunyikan. Ada juga yang karena kurangnta wawasan maka anak dengan disabilitas tidak diberikan perlakuan yang memadai, dibiarkan dan tidak disekolahkan ke sekolah luar biasa. Bahkan, pada beberapa kasus mereka mengalami kekerasan didalam keluarganya sendiri. Pihaknya berharap setiap keluarga yang mempunyai anggota penyandang disabilitas tidak merasa malu ketika ada anaknya yang berkebutuhan khusus. Sebaliknya,  “Berikan hak dasar bagi mereka, terutama pendidikan dan kesehatan,” ujar dia.

Diberi Keterampilan

Gedung bangunan BRTPD di Desa Srihardono, Bantul berdiri cukup megah dilahan luas sekitar empat hektar. Didalamnya, telah dilengkapi sejumlah sarana dan prasarana. Di antaranya, ada asrama bagi pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial (PPKS). Kemudian, ada ruang bimbingan belajar, ruang pelatihan vokasional, ruang konsultasi sosial dan psikologi, shelter workshop,  poliklinik, klinik fisioterapi, aula, area olahraga, mushola hingga ruang makan serta dapur.

Menurut Peni, bagi penyandang disabilitas sebagai penerima layanan maka secara otomatis wajib di-asramakan. Mereka akan mendapatkan hak layanan dasar seperti kesehatan, sandang dan pangan secara gratis. Selain itu, diberi kelas pelatihan dan ketrampilan vokasional sebagai bekal kemampuan diri. “Harapannya ketika kembali ke masyarakat, mereka bisa mandiri. Mandiri diri, sosial dan mandiri secara ekonomi,” harap Peni.

Sementara itu, Kepala Seksi Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas, Bena Romani mengungkapkan, saat ini didalam gedung asrama BRTPD sudah ada sekitar 159 Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial. Dari jumlah tersebut, 22 di antaranya, merupakan penyandang tuna grahita kategori sedang dan berat.

Pelayanan kepada tuna grahita kategori sedang dan berat, menurut dia, membutuhkan tantangan tersendiri. Sebab, lain dibanding lainnya, sehingga memerlukan pengawasan ketat. Bahkan, untuk memberikan pelayanan, dirinya melibatkan semua tenaga yang ada.

“Kami melibatkan tenaga Satpam, cleaning service sampai tukang kebun, karena memang tuna grahita ini butuh pengawasan ektra,” ucap Bena. Menurutnya, dimasa pandemi, balai rehabilitasi yang berdiri sejak tahun 2009 itu, telah menerapkan protokol kesehatan ketat. Keluarga yang datang menjenguk wajib screening suhu badan, cuci tangan, wajib memakai masker, dan tetap menjaga jarak.

Kemudian saat bertemu, maka harus diberi batas pengaman. Pengelola memasang plastik pengaman untuk menghindari kontak fisik sehingga memastikan semuanya aman dan terlindungi.

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Sambut Hari Disabilitas Internasional Mari Lebih Peka dan Peduli Keberadaan Penyandang Disabilitas.
Editor: Ikrob Didik Irawan

0 0 votes
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Diskusi
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar