SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

Lansia Terlantar di DIY sebanyak 36.728 orang

(Last Updated On: 5 Agustus 2014)

halunkpMenempatkan seseorang sebagai Pepunden (yang dihormati) dan pinisepuh (yang dituakan) adalah dua kenyataan yang mesti dilakukan oleh keluarga besarnya kepada seseorang tersebut. Sebab seseorang yang sudah tua dan memiliki anak, cucu bahkan buyut – yang akrab disebut sebagai lansia (lanjut usia) itu – memang semestinya menjadi pinisepuh dan pepunden bagi keluarga besarnya.

“Namun kenyataannya, ada kondisi sosial dan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan seorang lansia dijadikan pepunden dan pinisepuh. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, para lansia itu terpaksa hidup dalam kesendirian dan tak terurus secara sosial dan ekonomi. Jadilah mereka itu sebagai lansia terlantar. Dan kelompok ini yang menjadi tanggungjawab pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial,”ujar Drs Untung Sukaryadi, MM, Kepala Dinas Sosial DIY.

Data terakhir lansia terlantar di DIY berjumlah 36.728 orang. Yang terbanyak berdomisili di Gunung Kidul, yakni 14.851 orang. Oleh karena itulah Pemda DIY saat ini sedang gencar merumuskan arah kebijakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi Lansia di DIY.

Dalam sebuah forum pertemuan di Yogyakarta, Drs. Sulistyo, SH, CN, MSi, Asisten Gubernur Bidang Pemerintahan dan Kesra menyebutkan tinjauan terhadap lanjut usia selama ini masih didominasi oleh penjelasan dari perspektif biologis, yang lebih menekankan aspek kemunduran atau regresi organ tubuh karena proses penuaan.

Kajian ini menawarkan pendekatan teoritis yang lebih mengedepankan tafsir sosiologis atas issu penuaan dan lanjut usia. Penjelasan ini relevan dengan pendekatan yang digunakan dalam kebijakan yang lebih sosio humanistik.

Tinjauan dari aspek kultural juga menjadi sangat berharga terkait dengan keistimewaan DIY yang akan menggali dan mengembangkan nilai-nilai budaya DIY sebagai fondasi dalam menyongsong renaisance atau kebangkitan Jogja. Hanya saja penjelasan ini perlu lebih diperdalam dengan sumber-sumber pustaka yang lebih banyak.

Sebagaimana terlihat ketika puncak acara hari peringatan Lanjut Usia beberapa waktu lalu yang dipusatkan di alun-alun Wates Kulonprogo, sekitar 5.000 lansia berkumpul dan bergembira dalam senam Lansia dengan iringan penyanyi dangdut. Dalam acara ini diperkenalkan senam lansia yang lagu iringannya diambil dari salah satu seni tradisional khas Kulonprogo.

Secara sepintas dapat diamati, sebagian besar dari peserta senam lansia adalah para pinisepuh dan pepunden yang secara sosial dan ekonomis terjaga dengan baik oleh keluarganya masing-masing.

Meski begitu terlihat pula lansia yang dikoordinir oleh lembaga-lembaga yang bergerak di bidang penanganan lansia juga membawa ‘pasukannya’ masing-masing, yakni lansia yang diasuhnya.

Kepala Dinas Sosial DIY, Drs Untung Sukaryadi, MM yang membacakan sambutan tertulis Gubernur DIY menyampaikan bahwa usia harapan hidup di DIY rata-rata 72 tahun. Perkembangan penduduk lanjut usia DIY semakin meningkat seiring dengan peningkatan usia harapan hidup. Pada saat ini sekitar 14 % penduduk DIY termasuk kategori lanjut usia (di atas 60 tahun).

Salah satu arah renaissance DIY adalah keterlindungan warga, termasuk warga masyarakat lanjut usia, dengan menyediakan pelayananan sosial agar lanjut usia dapat hidup bahagia, sejahtera, bermartabat di usia senjanya.

Pada kesempatan peringatan Halun tahun 2014 ini, Untung Sukaryadi menyerahkan kepada Bupati Kulonprogo bantuan sebesar Rp 576 juta sebagai asistensi sosial lanjut usia terlantar untuk 240 penerima, yang masing-masing mendapatkan Rp 2,4 juta.

Bantuan lain yang diberikan adalah jaminan sosial lanjut usia sebesar Rp 416,7 juta untuk 463 orang penerima manfaat melalui 7 lembaga di Kulonprogo.***

0 0 votes
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Diskusi
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar