SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI-HOTLINE BANSOS COVID-19-WA : 0812 2683 9099-Email: dissosdiy.bansoscovid19@jogjaprov.go.id

KERJASAMA BRSPA DAN TAGANA DALAM KEGIATAN SIMULASI PENANGGULANGAN BENCANA

(Last Updated On: 30 April 2021)

Balai Rehabilitasi Sosial dan Pengasuhan Anak (BRSPA) DIY bekerjasama dengan Tagana DIY menyelenggarakan kegiatan Simulasi Penanggulangan Bencana dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh pada hari Senin, 26 April 2021. Simulasi diprioritaskan untuk mempersiapkan diri menghadapi evakuasi erupsi Gunung Merapi. Terhitung sejak 5 November 2020 aktivitas Gunung Merapi masih belum turun dari level Siaga. Awan panas dan guguran lava masih kerap terjadi. Kegiatan simulasi ini menjadi sangat penting bagi BRSPA dalam rangka pengurangan risiko bencana erupsi Gunung Merapi.

Pada persiapan teknis, TAGANA memberikan arahan tentang perlunya persiapan dini berupa tas darurat masing-masing anak asuh, kesiapan alat komunikasi, berjalannya early warning system (EWS) serta koordinasi lapangan yang harus berjalan sesuai SOP. Selanjutnya, TAGANA mengawal proses simulasi dan memastikan segala sesuatunya berjalan dengan lancar.

Proses simulasi dimulai jam 10.00 WIB ditandai dengan dibunyikannya sirine tanda bahaya. Sirine dibunyikan berdasarkan instruksi Kepala Balai yang memutuskan bahwa Gunung Merapi dalam keadaan bahaya dan seluruh PPKS anak asuh BRSPA harus diungsikan ke tempat yang aman.

Semua petugas terlibat untuk mengamankan kondisi dan memastikan semua PPKS anak asuh dapat dievakuasi. Anak-anak berkumpul di titik kumpul yang sudah ditentukan, dimana armada transportasi yang terdiri dari mobil ambulance, mobil operasional, dan truk rescue siap siaga untuk mengangkut.

Proses evakuasi menjadi heroik, yaitu ketika beberapa petugas membopong anak berkebutuhan khusus, bayi dan balita. Kelompok rentan seperti bayi, balita dan anak berkebutuhan khusus memang menjadi perhatian khusus. Kepala BRSPA, Suparmin, MPSSp. menyatakan bahwa anak berkebutuhan khusus, bayi dan balita harus diprioritaskan.

“Anak-anak berkebutuhan khusus, bayi dan balita adalah kelompok rentan yang harus mendapat perhatian paling utama dan dipastikan keselamatannya terlebih dahulu. Mereka juga harus dilibatkan dalam proses simulasi ini. Saya meminta kita semua serius dalam simulasi ini seolah-olah kita benar-benar dalam situasi tanggap darurat. Kita akan belajar bersama-sama dan mengevaluasi hal-hal apa saja yang harus diperhatikan untuk kebutuhan anak-anak kita, khususnya yang berkebutuhan khusus tersebut. Sehingga, nantinya bisa kita pastikan semua anak-anak kita selamat seluruhnya tanpa terkecuali,” tandas Suparmin.

Meskipun dalam kondisi puasa, kegiatan ini mendapat apresiasi positif dari PPKS anak asuh BRSPA. Tidak tampak wajah lelah dan lapar meskipun harus berlali-lari dari wisma menuju titik kumpul, memperhatikan komando petugas, dievakuasi dengan mobil, diberangkatkan sampai dengan kembali. Pengalaman dalam simulasi ini diharapkan membekas dan menjadikan anak-anak tetap waspada dan tidak panik seandainya kondisi Gunung Merapi berubah sewaktu-waktu.(Fer)

5 1 vote
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Diskusi
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar