SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

KADISSOS DIY MEMBUKA KEGIATAN PENINGKATAN KAPASITAS PEMILAHAN DATA INKLUSIF DAN PENGENALAN PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK DAN RENTAN LAINNYA.

(Last Updated On: 18 January 2022)

Pengalaman mengendap menjadi kearifan dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan sebagai media untuk membuka ruang kesadaran masyarakat tentang persoalan kebencanaan dan cara menanggulanginya. Adalah keniscayaan bahwa baik bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial, tidak bisa diprediksi kapan datangnya dan cakupan dampak yang diakibatkannya. Keduanya memiliki potensi ancaman yang besar, sehingga pemerintah harus meningkatkan sinergisitas dengan berbagai elemen dalam berupaya mengantisipasinya. Esensinya adalah pada pola penanggulangan yang terpadu, efektif dan efisien, sesuai tingkatan dan tahapan masing-masing. Untuk mewujudkannya diperlukan sistem informasi yang akurat dan terpadu melibatkan seluruh pelaksana.

Hal ini berlaku juga pada yang sedang terjadi saat ini pandemi Covid-19 gelombang pertama dan kedua telah memberikan banyak pembelajaran dan pengalaman kepada petugas dan relawan yang terlibat dalam situasi tanggap darurat bencana Covid-19. Hal yang menjadi tantangan adalah mengenai pendataan, banyak data yang ternyata belum dipilah dan beresiko mengakibatkan terjadinya ketidaksesuaian penanganan terhadap kebutuhan penyintas. Dalam penanggulangan bencana, proses pendataan yang terus diperbaharui dapat digunakan untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan penyintas serta untuk menentukan pemetaan peran atau pembagian tugas agar tepat sasaran.

Untuk itu Kadissos DIY, Endang Patmintarsih, S.H., M.Si. mendorong upaya peningkatan pelayanan masyarakat korban bencana dengan mewujudkan informasi yang akurat dan terpadu sehingga menjadi faktor kunci penanggulangan bencana yang optimal. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan pelatihan “Peningkatan Kapasitas bagi Relawan dalam Pemilahan Data yang Inklusif menggunakan WGQ (Washington Grup Question) serta Pengenalan Perlindungan Terhadap Anak & Rentan Lainnya”. Diselenggarakan oleh YAKKUM Emergency Unit, kegiatan ini berlangsung selama dua hari (18-19 Januari 2022). Melibatkan unsur Taruna Siaga Bencana (TAGANA) sebagai salah satu komponen pesertanya, peningkatan kapasitas ini bertujuan memberikan pengetahuan tentang kelompok inklusif, bentuk perlindungan bagi anak dan rentan lainnya, serta memastikan pendataan pada situasi tanggap bencana lebih detail, tidak hanya data pilah disabilitas saja.

Pendataan yang digunakan dapat menggunakan metode SADDD (Sex, Age, Disability and Disaggregated Data) atau data berbasis jenis kelamin, usia, disabilitas dan data teragregasi. Selain itu dikenalkan pula metode pengumpulan data WGO. Berbeda dengan instrumen pengumpulan data saat ini yang lebih menekankan pada identifikasi jenis kedisabilitasan, metode WGO lebih menitikberatkan pada informasi kebutuhannya, sehingga keperluan penyintas dapat sesuai dengan kebutuhannya baik dari segi kebutuhan dasar maupun infrastruktur pendukungnya.

Kegiatan yang diadakan di Hotel Prime Plaza, diikuti oleh peserta dari unsur Taruna Siaga Bencana (Tagana), Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jaringan Komunitas Kristen (JAKOMKRIS), Kalurahan Tangguh Bencana (KALTANA) se-DIY. Turut hadir dalam pembukaan dari jajaran YAKKUM Emergency Unit dan Sigit Alifianto, SE, MM selaku Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial DIY.


======
AC

5 1 vote
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Diskusi
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar