Minggu, 24 September 2017

-motto: MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI-*    -JOGJA ISTIMEWA-*    -SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-*    -motto: MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI-*    -SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-*    -JOGJA ISTIMEWA-*

Isu Strategis

ISU –ISU STRATEGIS

Berdasarkan telaah dari berbagai kajian dan analisis lingkungan strategis ditetapkan issu-issu strategis yang menjadi perhatian Dinas Sosial DIY yaitu :

  1. Masih tingginya angka kemiskinan, dimana DIY masih menduduki nomor 10 di antara sejumlah Propinsi termiskin di Indonesia. Tingkat  kemiskinan di DIY juga lebih tinggi dari pada tingkat nasional.
  2. Daerah Istimewa Yogyakarta juga masih mengalami berbagai masalah terkait dengan perlindungan anak. Kasus anak-anak yang menjadi korban tindak kekerasan dan perlakuan salah semakin meningkat. Demikian juga dengan kasus anak yang berbahadapan dengan hukum juga semakin bertambah.  Sementara itu sarana dan sarana maupun sumber daya manusia yang dapat digunakan untuk menyelenggarakan rehabilitasi sosial bagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus belum memadai.
  3. Ada sisi yang paradogsal ketika memaknai kemiskinan di DIY, karena meskipun angka harapan hidup di DIY mencapai rekor tertinggi di seluruh Indonesia.  Hal ini mencerminkan kelenturan masyarakat DIY dalam mensikapi keterbatasan dengan tetap menjaga harmoni dengan sumber-sumber dan alam yang memberi hidup serta spiritualitas yang dibangun dalam memaknai kehidupan. Namun, persoalan nyata yang dihadapi adalah masyarakat DIY akan menghadapi aging community, dengan struktur penduduk tua. Ini adalah bagian dari issu strategis yang akan dihadapi 5-10 tahun mendatang.
  4. Wilayah Yogyakarta juga rentan terhadap bencana alam, baik itu bencana letusan Gunung Merapi, Gempa bumi, stunami, tanah longsor, banjir, angin ribut maupun bencana kekeringan. Selain itu DIY juga berpotensi terjadi bencana sosial yang berbentuk konflik sosial antar golongan, antar penganut agama, antar etnis. Hal ini sebagai dampak dari masyarakat DIY yang heterogen, khususnya warga mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
  5. Peredaran dan penyalahgunaan NAPZA di DIY juga semakin meningkat. Persoalan NAPZA bukan saja terjadi di wilayah perkotaan tetapi sudah merembet ke wilayah kawasan sub urban, bahkan ada sejumlah kasus yang terjadi di wilayah pedesaan. Korban penyalahguna juga semakin muda, yaitu remaja pada jenjang usia SLTP. Dengan demikian Yogyakarta mempunyai agenda stratetgis untuk menyelematkan generasi muda dari bahaya penyalahgunaan NAPZA.
  6. Di wilayah DIY terdapat kurang lebih 30.000 penyandang disabilitas yang sebagian besar masih mengalami hambatan untuk memcapai kehidupan yang sejahtera dan mandiri. Warga masyarakat yang mengalami disabilitas masih mengalami berbagai bentuk diskriminasi dan hambatan mobilitas karena lingkungan yang tidak aksesibel, serta sulit mendapatkan pekerjaan.
  7. Kemiskinan juga menimbulkan dampak lanjutan, di antaranya masalah ketunaan sosial. Terbatasnya sumber daya di wilayah pedesaan dan tuntutan untuk menjaga kelangsungan hidup mendorong arus migrasi, ke wilayah perkotaan maupun antar daerah. Tingginya kompetisi kehidupan di wilayah perkotaan justru semakin memarginalkan posisi warga miskin  menjadi warga kota yang tidak mempunyai tempat tinggal, pekerjaan dan penghidupan yang layak. Pada akhirnya mereka menjadi bagian dari komunitas jalanan dan hidup tergantung dari belas kasihan dan uluran tangan orang lain. Perempuan menjadi kelompok yang paling rentan untuk menanggung beban akibat kemiskinan. Perempuan pada akhirnya yang harus menjadi korban untuk menyelamatkan kelangsungan hidup keluarga, misalnya dengha berhenti sekolah untuk bekerja menjadi PRT atau TKW. Sebagian malah harus memperoleh pendapatan dengan cara-cara yang tidak bermartabat, terpaksa masuk dalam praktek komodifikasi seksual. Persoalan ini juga menjadi bagian dari Pemerintah DIY dalam menanggulangi ketunaan sosial akibat dari kemiskinan.
  8. Yogyakarta sebagai episentrum pertumbuhan budaya yang dikenal sangat menjunjung tinggi toleransi, mufakat, gotong royong, asih, asah, asuh, mengayomi juga menghadapi gelombang arus budaya modern yang mempunyai karakter pragmatis, individual, material, hedonis dan transaksional dalam interaksi sosialnya. Sebagai dampaknya masyarakat mulai tergerus nilai-nilai kearifan lokalnya, semakin tidak toleran, saling berkompetisi dan mendominasi bahkan melakuan tindak kekerasan. Kekerasan terjadi di ruang-ruang yang paling privat yang senyap yaitu di dalam keluarga dan yang menjadi korban adalah anak-anak dan perempuan, maupun di ruang publik yang juga dialami oleh anak-anak dan perempuan serta kelompok minoritas. Ini adalah tantangan nyata yang harus dihadapi dan ditangani Pemerintah DIY dalam membangun dan menguatkan kembali budaya menyongsong peradaban baru.

Pencarian dari mesin pencari: peemasalahan sosial budaya di jogja 2017, isu di jogja, isu isu atau permasalahan di gunung merapi, isu isu strategis tentang kekeringan, isu jogja, isu strategis dinas sosial.

dinsos jogja dinas sosial daerah istimewa yogyakarta