SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

GERBANGPRAJA

(Last Updated On: 16 November 2018)

GERBANGPRAJA

GERAKAN BANGGA PENGGUNAAN AKSARAJAWA

Nggugah Rasa Sithik Edhing lumantar aksara

Membangun Generasi Istimewa yang Berbudaya & Beretika Jawa

Huruf Jawa penuh dengan makna, hal pertama yang disampaikan oleh bapak Drs. Untung Sukaryadi, MM, Kepala Dinas Sosial DIY dalam wawancara pada Jumat, 14 September 2018. Gerbangpraja adalah singkatan dari Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa. Ini merupakan suatu program restorasi sosial dalam rangka implementasi nawacita yang ke sembilan. Yaitu memperteguh kebhinekaan dan memperkuat  restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.

Disampaikan pula oleh bapak Untung Sukaryadi, bahwa aksara Jawa  tidak hanya dimaknai sebagi suatu huruf untuk merangkai kata tetapi juga sebagai suatu karakter. Dimana aksara jawa tersebut ketika dieksplore mendalam memiliki suatu kandungan/ arti tata kelola kehidupan bermasyarakat, bernegara yang sangat luhur.  Selama ini aksara jawa diajarkan sekedar pada tata cara menulis dan merangkai kata-kata tidak pernah diinformasikan tentang makna dan filosofi aksara jawa.  Yang mana untuk pendidikan karakter bangsa hal ini menjadi sangat pentin. Dalam Hari Aksara Internasional (HAI)  mengambil tema Aksara Membangun Perdamaian dan Karakter Bangsa. Adapun sub tema peringatan ini adalah melalui peringatan HAI ke 47 kita tingkatkan nilai ke Indonesiaan yang berbudaya damai dan berkarakter. Tema ini diharapkan dapat mengingatkan kembali serta memberi inspirasi tentang kesungguhan upaya penyelengaraan pendidikan keaksaraan sebagai fondasi gerakan membangun manusia berkarakter dan berbudaya damai.

Dinas Sosial dalam eksplore nilai dan aksara jawa mencoba menanamkan kepada segenap generasi agar masyarakat luas merasa handarbeni dan merasa bangga dengan miliknya. Aksara jawa memiliki kandungan yang berisi perintah ketaatan, kejayaan dan kepunahan. Agar kejayaan itu sendiri tetap terjaga, maka dalam menjalankan ketaatan perintah perlu pengembangan dialog, mencapai titik temu. Untuk itu dibutuhkan saling menghargai yang mana dalam bahasa jawa disebut SITHIK EDHING yang maknanya berbagi ruang dan rasa.

Pada waktu dan tempat yang sama, Dinas Sosial DIY mengundang Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY dan Dinas Kebudayaan DIY. Pertemuan tersebut memiliki maksud dan tujuan yang sama tentang Program Restorasi Sosial “GERBANGPRAJA” nggugah rasa sithik edhing lumantar aksara. Dinas Sosial melalui upaya penyadaran kepada masyarakat, Dinas Kebudayaan dalam pelestarian dan pengembangan aksara jawa, sementara Dinas Pendidikan  berupaya dalam memberikan pendidikan aksara jawa. Respon dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan olahraga DIY serta Dinas Kebudayaan DIY adalah berharap dapat saling bersinergi dalam pengembangan budaya jawa terutama aksara jawa.  Program ini rencana akan dilaksanakan di awal bulan Oktober dengan sasaran tempat di 18 titik kecamatan, masing-masing kecamatan terdiri dari 100 orang meliputi warga masyarakat, lembaga sosial (Karang Taruna, WKSBM, TKSK, tagana dan Pelopor Perdamaian), Pemuda, tokoh masyarakat dan tokoh lintas agama. Kegiatan akan dilaksanakan dengan saresehan dan Pentas Seni dengan muatan menguatkan jiwa nasionalisme kesatuan dan persatuan serta kebersamaan dalam masyarakat. Rencana, dalam saresehan akan menghadirkan narasumber dari para ahli, praktisi dan masyarakat.

Kepala Dinas Sosial DIY, berharap bahwa bangga menggunakan aksara jawa dapat di implementasikan oleh seluruh lapisan masyarakat, sebagai wujud penghargaan bahkan perlu untuk berikan sebuah kenangan berupa gerbang praja di setiap desa yang dapat mengimplementasikan penggunaan aksara jawa dengan baik. Kepala Bidang Parsosmas, bapak Abu Yazid juga menambahkan “Gerbang Praja bisa jadi stimulan agar beberapa desa memiliki stimulan untuk pelaksanaan bangga aksara jawa. Tahun 2019 direncanakan kegiatan saresehan akan dilaksanakan di 50 titik kecamatan melalui dana APBD”. Selanjutnya Kepala Dinas Sosial DIY sangat berharap akan ada konsep besar bahkan peraturan Gubernur yang mengatur tentang Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa.

Pembukaan program Restorasi Sosial Gerbang Praja oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dilaksanakan tanggal 9 Oktober 2018 di Bangsal Kepatihan. Selanjutnya kegiatan sarasehan akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2018 di 18 titik di wilayah DIY.

Kepala Dinas Sosial DIY, Drs. Untung Sukaryadi, MM dalam sambutan Laporan Pembukaan Sarasehan Restorasi Sosial “GERBANGPRAJA” di bangsal Kepatihan mengatakan bahwa Yogyakarta entah karena tiga predikat yaitu tujuan pendidikan, wisata dan kebudayaan atau salah satunya saja alasan yang semakin membuka ruang komunikasi sosial secara lebih terbuka. Jikalau tidak tertanam budaya Jawa yang kita miliki maka akan terdistorsinya nilai-nilai budaya jawa kita. Generasi muda kita tampak begitu enggan menggunakan identitas sosial mereka dalam berinteraksi. Lalu bagaimana cara kita untuk melahirkan generasi jawa yang modern, hal itu dimulai dari membuka kesadaran literatif atas filosofi budaya jawa yang disana tersimpan nilai-nilai konsepsi etik dan moral. Untuk mencapainya maka diperlukan instrumen teknis yakni antara lain : AKSARA JAWA agardapat mempelajari langsung dari sumber-sumber pokok yang selama ini tersimpan tanpa sentuhan. Pengetahuan, pemahaman dan penggunaan aksara jawa menjadi significant sebagai sebuah gerakan yang bersifat literatif. Sebab, di dalam aksara inilah tersimpan materi ajaran dan nilai-nilai filosofis budaya jawa salah satunya teposeliro ( toleransi ).

Atas dasar itulah, program restorasi sosial yang diusung Dinas Sosial DIY mengenalkan sebuah konsepsi gerakan yang semoga menjadi hulu ledak kesadaran sosial budaya yakni bangga menggunakan aksara jawa. Dinas Sosial DIY mempunyai alasan mendasar menumbuhkembangkan kesadaran penggunaan AKSARA JAWA yaitu

  1. Semangat keistimewaan Jogjakarta
  2. Aksara membangun perdamaian dan karakter bangsa ( dalam Hari Aksara Internasional ke 47)
  3. Aksara adalah identitas sosiokultural suatu bangsa
  4. Aksara menjadi simbol perekat dan pemerkuat nasionalisme contohnya Jepang, Korea dan Cina.

Keempat alasan ini sebagai pijakan restorasi sosial Dinas Sosial yang memiliki kesesuai dengan nawacita Pemerintah RI yang ke sembilan yakni : memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga untuk mencapai harmonisasi dalam kebhinekaan. Hal ini perlu sikap menghindari dominasi mayoritas atau tirani minoritas dan menghilangkan Jargon Pokok e yakni mengedepankan toleransi ( tepo seliro/ sithik edhing). Harapannya perlu gerakan masif menanamkan generasi muda bangga menggunakan Aksara Jawa yang kita sebut program GERBANGPRAJA yang dalam program restorasi sosial merefleksikan sikap tradisi jawa yaitu teposeliro yang dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya sithik eding.

Gubernur DIY juga menyampaikan bahwa generasi muda terkesan semakin enggan menunjukkan identitas sosialnya, barangkali inilah salah satu dari keprihatinan sosial . Sultan juga menyampaikan bahwa bahasa lebih dari sekedar alat komunikasi tetapi menggambarkan kemanusiaan kita nilai keyakinan dan identitas yang tertanam dalam bahasa. Melalui bahasa, manusia mentransmisikan pengalaman tradisi dan pengetahuan. Secara Global UNESCO, 40 persen penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap pendidikan bahasa yang mereka ucapkan. Kenyataan ini mendorong Unesco meningkatkan pendidikan multi bahasa berbasis bahasa ibu di sekolah pemula untuk terus dilakukan. Sultan juga menyampaikan bahwa para peneliti menemukan multi lingualisme ternyata kondusif untuk keberlanjutan pembangunan dan ekonomi. Negara-negara yang aktif memelihara berbagai bahasa dapat menuai berbagai hal positif, mulai ekspor sukses hingga angkatan kerja yang lebih inovatif.  

0 0 votes
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Diskusi
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar