SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

DIFAGANA : CARA JITU TANGANI DIFABEL SAAT TERJADI BENCANA

(Last Updated On: 21 April 2021)
Potret kiprah Difagana pada situasi pasca bencana (harianjogja.com)

Umumnya, para difabel akan lebih paham kondisi sesama difabel. Konsep inilah yang coba diadopsi oleh Difabel Tanggap Bencana (Difagana). Difagana merupakan kelompok sukarelawan yang bertugas membantu sesama dari sebelum, saat, sampai setelah bencana. Berada di bawah Dinas Sosial (Dissos) DIY, Difagana telah aktif mengabdi sejak 2017.

Kepala Dissos DIY, Endang Patmintarsih, S.H.,M.Si. mengatakan bahwa sukarelawan difabel bisa lebih mengerti kondisi korban bencana yang juga difabel. Sehingga dalam penanganan bisa lebih tepat dan lebih cepat dalam pemulihan. “Difagana sangat berpengaruh di masyarakat  Mereka sangat paham soal apa yang mereka [difabel] butuhkan,” kata Endang, Senin (19/4).

Terlebih di daerah rawan bencana seperti DIY, peran Difagana menjadi penting. Saat ini ada 125 sukarelawan yang tersebar di seluruh DIY. Nantinya Endang bakal meningkatkan jumlah sukarelawan menjadi sekitar 582 orang. Perhitungan ini merujuk pada 291 kalurahan di DIY yang rawan bencana. Dengan adanya dua sukarelawan Difagana di tiap satu kalurahan, diharapkan edukasi dan penanganan bencana, khususnya untuk masyarakat difabel bisa lebih tepat sasaran.

Berdasarkan data 2019, kata dia, ada sekitar 29.000 difabel di DIY. “Agar bisa melayani dan menangani bencana dengan semakin maksimal, Dissos DIY akan terus memfasilitasi dan mengembangkan kapasitas Difagana,” kata Endang.

Meskipun sudah ada sejak 2017, benih-benih konsep Difagana sejatinya berawal sejak 2011, tepatnya setelah terjadinya erupsi Gunung Merapi pada 2010. Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Sigit Alifianto, mengatakan, saat proses resosialisasi kala itu, sebanyak 100 sukarelawan Tagana berupaya menghidupkan kembali kegiatan sosial seperti arisan, olahraga, dan lainnya. Kala itu juga masa perpindahan dari hunian sementara menuju hunian tetap. Dari seluruh masyarakat yang pindah, beberapa di antaranya difabel.

“Tetapi begitu Tagana mendampingi yang difabel, awalnya memang tidak banyak komplain. Tapi begitu evaluasi, kami tanyakan pada korban bencana yang difabel, mereka bilang masnya kok enggak paham, mbaknya yang mendampingi enggak sabar,” kata Singgit.

Setelah itu ada pelatihan dari difabel kepada sukarelawan Tagana, dengan tujuan mereka bisa lebih paham kondisi difabel. Setelah pelatihan dan kembali menangani difabel, ternyata tidak begitu berdampak. Maka muncullah pemikiran bahwa yang bisa menangani difabel ya sesama difabel.

Peran Penting

Terkait dengan kapasitas, sukarelawan Difagana juga bisa melakukan kegiatan layaknya sukarelawan Tagana. Bahkan dalam membangun tenda, hanya memerlukan waktu lima menit, sama dengan waktu yang Tagana butuhkan dalam melakukan hal yang sama.

Sebelum terjun ke lapangan, sukarelawan Difagana mendapat pelatihan tentang pengelolaan selter, dapur umum, layanan psikososial, pengelolaan logistik, dan pertolongan pertama gawat darurat, serta penggunaan alat komunikasi.

Sejak kali pertama terbentuk, Difagana telah terjun di beberapa penanganan bencana seperti di Lombok, Sulawesi Tengah, dan lainnya. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang meminta bantuan Difagana. Sampai saat ini, Difagana satu-satunya sukarelawan beranggotakan difabel di Indonesia.

Selain penanganan setelah bencana, Difagana juga berperan penting sebelum adanya bencana. “Mereka tidak hanya berperan pada saat bencana, tapi pra bencana juga, dengan memberi penyuluhan atau mentoring ke sekolah luar biasa. Malah lebih mengena,” kata Sigit.

Artikel ini telah tayang di jogjapolitan.harianjogja.com dengan judul Difagana, Cara Jitu Tangani Difabel saat Bencana Alam

5 1 vote
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Diskusi
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar