SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA-MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI

BULAN BAKTI KARANG TARUNA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2018

(Last Updated On: 16 November 2018)

Minggu, 16 september 2018 telah dilaksanakan kegiatan Bulan Bakti Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2018, yang bertempat di Lapangan Komplek Balai Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Kegiatan ini memiliki tema “DOLAN, DODOLAN, DOLANAN,  ” (bermain, berjualan, permainan). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun karang taruna yang ke 58 dan keprihatinan kita terhadap generasi muda yang mulai melupakan permainan tradisional yang penuh dengan nilai-nilai kesetiakwanan sosial, kepedulian sosial, kebersamaan dan kegotong royongan.

Kegiatan BBKT di hadiri dari  Kementerian Sosial RI, Forkompinda DIY, Wakil Bupati Bantul, DPRD dari Kab. Bantul, Forkompinda Kabupaten Bantul, SKPD pembina teknis karang taruna, perwakilan karang taruna se DIY, tokoh masyarakat dan warga masyarakat desa Argomulyo, Sedayu, bantul.

Karang taruna adalah organisasi sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial (permensos 77/HUK/2010). Karang taruna memiliki peran yang sangat besar dalam mewujudkan kesejahteraan sosial bagi pemuda.

Karang Taruna lahir pada tanggal 26 September 1960 di Kampung Melayu Jakarta, melalui proses Experimental Project Karang Taruna, kerjasama masyarakat Kampung Melayu/ Yayasan Perawatan Anak Yatim (YPAY) dengan Jawatan Pekerjaan Sosial/Departemen Sosial /Kementerian Sosial. Pembentukan Karang Taruna dilatar belakangi oleh banyaknya anak-anak yang menyandang masalah sosial antara lain seperti anak yatim, putus sekolah, mencari nafkah membantu orang tua dan permasalahan sosial lainnya. Masalah tersebut tidak terlepas dari kemiskinan yang dialami sebagian masyarakat kala itu.

Sejarah panjang kiprah karang taruna dalam mewujudkan generasi muda yang kuat dan tangguh di mulai sejak tahun 1960 oleh seorang pemuda yang bernama ghazali. Ghazali muda pada waktu itu melihat berbagai permasalahan sosial di lingkungannya yang memerlukan penanganan dari lingkungan sekitarnya. Peran pemuda dengan kiprahnya dalam menangani berbagai permasalahan sosial menjadi sebuah inspirasi bagi pemerintah untuk untuk mengembangkannya di seluruh wilayah Indonesia dalam wadah Karang taruna.

Pada saat ini, banyak pemuda dan anak-anak yang sudah mulai melupakan atau tidak mengenal lagi model-model permainan jaman dahulu yang sarat dengan nilai-nilai kebersamaan, kekompakan, sportivitas dan nilai-nilai positif lainnya. Sekarang, anak-anak lebih mengenal game atau permainan yang disediakan oleh penyedia layanan yang berbasis  internet atau game-game yang tidak ada lagi unsur kebersamaan. Anak bisa bermain sendiri dalam waktu yang sangat lama bersama dengan komputer atau handphone tanpa harus mempedulikan lingkungannya. Permainan-permainan tersebut akan memunculkan pribadi-pribadi yang kurang peduli terhadap lingkungan dan pribadi yang mementingkan kepentingan sendiri dibandingkan dengan kepentingan lingkungan sosialnya.

Permasalahan tersebut menjadi sebuah permasalahan dan tantangan sendiri bagi generasi muda untuk mensikapi secara bijak kemajuan teknologi informasi dan menggunakannya secara bijak tanpa harus menghilangkan nilai-nilai budaya kebersamaan, kepedulian sosial dan sportivitas. Permainan-permainan tradisional yang merupakan bagian dari budaya kita harus kita lestarikan dan diteruskan kepada generasi penerus kita.

Kegiatan bulan bakti karang taruna dimulai dengan acara apel siaga karang taruna yang dihadiri 750 orang yang terdiri dari unsur karang taruna provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa, karang taruna unit dan masyarakat. Setelah apel siaga dilanjutkan dengan sarasehan dengan tema “dolanan anak di era digital “yang menghadirkan narasumber :

  1. Asep Sasa Permana, MSi (Staf Ahli menteri Sosial bidang perubahan dan dinamika sosial) dengan materi: tantangan dan peluang karang taruna dalam menangani permasalahan pemuda di era digitalisasi.
  2. Untung Sukaryadi, MM (kepala Dinas Sosial DIY) dengan materi : Pemuda, Karang taruna dan Kemajuan DIY.
  3. Indria Laksmi Gamayanti dengan materi : tinjauan psikologis perilakiu anak di era digital”.
  4. Gusti Kanjeng Ratu Bendoro dengan materi Pola mendidik anak di era digital.

Disamping saresehan juga dilakukan beberapa rangkaian kegiatan bulan bakti karang taruna tahun 2018 antara lain:

  1. Rehab rumah tidak layak huni sejumlah 5 rumah
  2. Pemberian paket sembako untuk 300 penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).
  3. Perlombaan permainan tradisional oleh anak-anak dan orang tua.

Melalui bulan bakti karang taruna Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2018, diharapkan permainan tradisional yang mulai dilupakan oleh generasi muda dapat di kenalkan kembali kepada anak-anak serta menjadi referensi permainan yang harus di lestarikan dan dikembangkan untuk mewujudkan generasi muda yang mengenal budayanya.

(penulis: Suparmin, MPSSp).

0 0 votes
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Diskusi
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar