Siagakan Anak Hadapi Bencana, Tagana DIY Masuk Panti Asuhan

(Last Updated On: 13 November 2020)
Narasumber dari personil Tagana sedang menyampaikan materi sosialisasi mitigasi bencana di RPA Wiloso Projo

Di masa normal sebelum pandemi, Dinas Sosial DIY memilki program Taruna Siaga Bencana (Tagana) masuk sekolah. Namun, saat ini seluruh sekolah masih menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Maka dari itu, di masa pandemi program tersebut dialihkan menjadi Tagana masuk panti asuhan. Tujuannya adalah mengenalkan berbagai macam bencana dan upaya mengurangi resiko bencana dengan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana yang dikenal dengan sebutan mitigasi bencana kepada anak-anak dan petugas panti jika terjadi bencana alam maupun sosial dan non alam.

Kepala Seksi Penanganan Korban Bencana Alam dan Bencana Sosial Dinas Sosial DIY, Subakir menjelaskan, melalui program ini anak-anak dan petugas panti diberitahu mengenai hal-hal yang berakibat dari bencana itu sendiri. Mereka juga dikenalkan bagaimana cara menghadapi bencana sejak sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi. “Semisal jika terjadi gempa bumi bagaimana. Ini untuk mengurangi risiko terjadinya korban sebagai akibat dari bencana. Bagaimana cara menghadapinya dan apa yang harus dilakukan,” ujarnya saat ditemui di Rumah Pengasuhan Anak (RPA) Wiloso Projo, Jetis, Yogyakarta, Selasa (10/11/2020).

Subakir menambahkan, pihaknya dalam seminggu terakhir menugaskan 20 personel Tagana untuk melakukan sosialisasi di 50 lokasi panti asuhan di DIY. “Satu hari bisa 8-10 lokasi. Kegiatan kali ini merupakan pengenalan. Tahun depan bagi yang sudah diberikan ini mungkin akan kami berikan lanjutan simulasi bencana,” ucapnya.

Ditemui di kesempatan yang sama, Kepala Posko Tagana DIY, Winarto menyampaikan, siang itu pihaknya melakukan sosialisasi terkait mitigasi untuk 5 jenis bencana. Di antaranya angin puting beliung, banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan kebakaran. “Ada 13 macam bencana yang perlu kita ketahui mitigasinya, namun karena keterbatasan waktu kami sampaikan 5 dulu. Pengurangan risiko bencana ini harus diketahui oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun, ” tandasnya.

Sementara itu, Kepala UPT RPA Wiloso Projo, Ari Arif Purnama Wati berharap dengan adanya sosialisasi dari Tagana anak-anak dapat lebih mengerti tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana. “Semoga dengan Tagana memberi penyuluhan, anak-anak mengerti. Kami tidak berharap ada bencana, tetapi kalau ada bencana anak-anak jadi tahu harus apa, bagaimana, dan ke mana. Sangat bermanfaat apalagi sekarang ini kita dihadapkan pada resiko terjadinya berbagai macam bencana,” tuturnya.

(Sumber : Maruti Asmaul Husna, Reporter Tribun Jogja)

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

Solve : *
16 × 5 =


Marquee Powered By Know How Media.