....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

HOTLINE BANSOS COVID-19....WA : 0812 2683 9099       Email: dissosdiy.bansoscovid19@jogjaprov.go.id

Saya, Anda, Dan Mereka Dapat Bersama Hentikan Stigma Negatif Terkait Covid-19

(Last Updated On: 16 Juni 2020)

Cepatnya penyebaran pandemi Covid-19 diberbagai negara, membuat masyarakat kaget, takut, dan khawatir hingga menimbulkan fenomena sosial yang berpotensi memperparah situasi. Fenomena sosial tersebut adalah stigma sosial atau asosiasi negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang yang mengalami gejala atau menyandang penyakit tertentu. Mereka diberikan label, stereotip, didiskriminasi, diperlakukan berbeda, dan/atau mengalami pelecehan status karena terasosiasi dengan sebuah penyakit. Covid-19 ini merupakan jenis virus baru, masih banyak faktor yang belum diketahui secara pasti tentang virus ini. Bahkan para ilmuwan pun masih belum dapat mengungkap penyebab awal mula keberadaan virus ini. Hal tersebut menimbulkan ketakutan dan seringkali masyarakat bertindak tidak logis yang dapat merugikan diri sendiri maupun masyarakat luas.

Kesalahpahaman masyarakat dalam menghadapi dan melawan Covid-19 disebabkan karena kurangnya edukasi kepada masyarakat tentang bencana ini, sehingga hal tersebut menimbulkan stigma negatif di kalangan masyarakat. Stigma tersebut dapat menimbulkan deskriminasi kepada individu atau sekelompok orang tertentu. Berbagai stigma terhadap Covid-19 yang terjadi di masyarakat diantaranya penolakan jenazah ODP, PDP, dan petugas kesehatan, pengusiran perawat yang menangani kasus Covid-19 oleh warga, pemaksaan oleh warga untuk membongkar makam korban yang meninggal akibat Covid-19, masyarakat yang dituduh sebagai ODP/PDP diusir dari kampungnya, serta berbagai stigma-stigma negatif terhadap pandemi Covid-19 tersebut. Jika terus dibiarkan stigma pada tingkat yang lebih parah, dapat membuat orang yang merasakan gejala covid-19 enggan melapor, menyembunyikan dirinya, dan enggan mengkarantina dirinya, dan akhirnya merugikan masyarakat luas.

Stigma negatif terkait covid19 terjadi pada pasien, ODP, PDP serta petugas kesehatan yang menangani pasien covid19. Stigma negatif yang diberikan hanya akan memperparah keadaan baik secara mental maupun pada penyebaran penyakit itu sendiri. Pasien covid19 mengaku marasa tertekan dengan adanya stigma negatif ini akibat foto-fotonya disebarkan oleh pihak tertentu. Petugas medis yang menangani pasien covid19 juga mengalami berbagai tindakan masyarakat yang kurang baik misalnya diusir dari kontrakan dll. Beberapa OPD, PDP juga mengalami tekanan psikologis dari lingkungan sekitar. Hal ini terjadi karena masyarakat sering mendapatkan berbagai berita negatif tentang penyakit ini meskipun dari data yang ada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan kemungkinan sembuh penyakit ini adalah 97%. Stigma tersebut dapat memberikan tekanan psikis dan berdampak pada imunitas seseorang serta proses penyembuhan pasien covid-19.

Pemerintah, warga negara, media, influencer, dan komunitas memiliki peran penting dalam mencegah dan menghentikan stigma di sekitar kita. Misalnya, para influencer, pemimpin agama, pejabat publik, selebriti, dan tokoh masyarakat dapat memperkuat pesan yang mengurangi stigma, mengundang khalayak untuk merenung dan berempati pada orang-orang yang terstigma, dan mengumpulkan gagasan untuk mendukung mereka. 

Rumah sakit, lembaga penelitian, universitas, dan institusi lainnya dapat meluruskan hoaks dengan fakta-fakta. Stigma sosial bisa terjadi akibat kurangnya pengetahuan tentang COVID-19 (bagaimana penyakit ditularkan dan diobati, dan cara mencegah infeksi). Yang paling penting untuk dilakukan adalah penyebaran informasi yang akurat dan sesuai dengan komunitas tentang daerah yang terkena, kerentanan individu dan kelompok terhadap COVID-19, opsi perawatan, dan di mana masyarakat dapat mengakses perawatan dan informasi kesehatan. Gunakan bahasa sederhana dan hindari istilah klinis.

Para jurnalis hendaknya menerapkan jurnalisme beretika. Pelaporan jurnalistik yang terlalu fokus pada tanggung jawab pasien karena mengidap dan “menyebarkan COVID-19” dapat memperburuk stigma. Sebagai gantinya, media massa bisa mempromosikan konten seputar praktik pencegahan infeksi dasar, gejala COVID-19, dan kapan harus mencari perawatan kesehatan. Hal ini penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan bukannya menebar kepanikan yang tidak perlu. Selain itu, untuk meredam kegelisahan sosial, jurnalis juga dapat meliput orang-orang yang telah pulih dari COVID-19 serta para “pahlawan” untuk menghormati tenaga kesehatan dan komunitas relawan yang berperan baik.

Berikut adalah contoh hal yang dapat kita lakukan untuk menimalisir stigma negatif terkait covid-19 yang ada dimasyarakat:

  1. Memberikan edukasi pada anggota keluarga untuk mengikuti anjuran pemerintah dan menerapkan PHBS setiap hari.
  2. Jangan memberikan beban tambahan dengan menjauhi, menolak, mendiskreditkan ODP, PDP, dan petugas kesehatan karena ini sangat menyakitkan
  3. Jangan membicarakan mereka, berbisik-bisik dihadapan mereka sebagai penular penyakit
  4. Menjauhkan atau mengejek keluarga mereka karena beranggapan sebagai penular penyakit.
  5. Berikan apresiasi kepada tenaga medis dan petugas lain yang merawat pasien covid19
  6. Sebarkan informasi bahwa petugas medis adalah pahlawan kita saat ini, mereka rela merawat pasien covid-19 dengan ikhlas dan mempertaruhkan nyawanya.
  7. Sebarkan informasi bahwa petugas medis dalam merawat pasien covid-19 sangat memperhatikan protokol kesehatan dan memiliki pengetahuan luas tentang covid-19.
  8. Memperluas akses dukungan psikososial/kesehatan mental/kesehatan jiwa

Mari kita bersama saling menguatkan dimasa pandemi covid-19 saat ini, saling peduli, mengikuti anjura pemerintah, dan berkomitmen untuk tidak menyebarkan prasangka buruk pada kelompok tertentu terkait covid-19. Saya, anda, dan semuanya dapat berperan aktif bersama melawan penyebaran covid-19. Semoga Tuhan YME meridhoi usaha dan melindungi kita dari pandemi covid-19 ini. Heru Cahyo Romadhon S.Tr.Sos (Penyuluh Sosial Dinas Sosial DIY).

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Marquee Powered By Know How Media.