DINSOS DIY GELAR BERAGAM KEGIATAN DI JOGJA HEBOH

(Last Updated On: 8 Februari 2020)


Yogyakarta (07/02/2020). Jogja Heboh. sebuah event menggeliatkan perekonomian, kunjungan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Memerlukan dukungan “sengkuyungan” semua pihak. Ini adalah milik dan untuk kepentingan seluruh masyarakat yang istimewa di satu daerah yang bernama Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinas Sosial DIY, menjadi satu titik kecil dari bagian tersebut. Ingin turut nyengkuyung Jogja Heboh. Berikut adalah tulisan wartawan Harian Jogja yang diterbitkan pada hari Kamis (06/02), sebagai wujud kerjasama antara Surat Kabar Harian Jogja dengan Dinas Sosial DIY melalui Kegiatan Penyuluhan, Edukasi & Promosi Kesejahteraan Sosial Serta Pendataan PMKS dan PSKS. Ditulis ulang untuk website Dinas Sosial DIY. Berikut selengkapnya :

Dinas Sosial (Dinsos) DIY menggelar sejumlah kegiatan untuk mendukung pelaksanaan event Jogja Heboh yang dihelat sejak 2 Februari hingga 29 Maret 2020. Dinsos DIY lebih mengangkat kegiatan untuk restorasi sosial atau menyasar kalangan keluarga miskin dalam beragam kegiatannya.

Jogja Heboh merupakan salah satu kegiatan untuk memperluas pasar potensial pariwisata dan upaya menumbuhkan sektor perdagangan, perekonomian, serta industri kreatif. Event ini juga untuk mengenalkan DIY sebagai destinasi pariwisata unggulan di Indonesia. Acara ini dibuka di Tebing Breksi, Prambanan, Sleman.

Kepala Dinsos DIY Untung Sukaryadi menjelaskan bila Dinsos DIY kembali berkontribusi dalam rangkaian event Jogja Heboh 2020 ini. Sejumlah kegiatan yang digelar di antaranya Nikah Bareng, restorasi sosial, Sarkem Fest, kegiatan batik jumputan, Wayang Cakruk, hingga Festival Prawirotaman.

Dinsos DIY terus berupaya meningkatkan keterlibatan dan perannya dalam pelaksanaan kegiatan Jogja Heboh setiap tahun dengan harapan bisa berkontribusi untuk masyarakat DIY.

“Kontribusi di Jogja Heboh dari tahun ke tahun kami selalu ada peningkatan, kalau dulu kan hanya beberapa titik saja, sekarang lebih banyak, jadi terus kami upayakan meningkat baik kuantitas dan kualitasnya,” katanya Selasa (4/2).

Ia menjelaskan, kegiatan Sarkem Fest juga dihelat di kawasan Pasar Kembang Kota Jogja. Dalam perhelatan ini melibatkan berbagai komunitas, bentuk kegiatannya seperti pameran, festival hingga serasehan.

“Sarkem Fest memang tempatnya di Sarkem. Di sana ada berbagai kegiatan mulai dari pameran, festival, pentas, ada serasehannya juga, jadi selain sisi ekonomi, pariwisata hingga edukasi,” katanya.

Sedangkan untuk serasehan, menurut dia merupakan bagian dari upaya restorasi sosial. Serasehan itu dengan menghadirkan banyak narasumber dengan beragam latarbelakang untuk mendiskusikan bagaimana upaya kembali ke tatanan kehidupan sosial yang lebih njawani. Serta kehidupan mengedepankan toleransi, sithik edhing dari heterogen agar tetap heterogen tetapi butuh harmonisasi. “Bagaimana agar nilai toleransi, sithik edhing ini tetap terjaga di tengah masyarakat yang heterogen ini, sehingga bisa saling pengertian, harmonisasi terjaga,” ucapnya.

Untung mengatakan untuk pelaksanaan nikah bareng akan dihelat di kawasan wisata Banyu Langit dan Lava Tour hingga perpustakaan. Pihaknya sengaja mengambil lokasi yang berbeda dengan harapan ada kesan unik dan berdampak pada wisata. Nikah bareng ini tentu ada pembatasan jumlah peserta karena harus ada berbagai persiapan.

“Tempatnya kami pilih yang unik mendatangkan wisata. Terbuka untuk umum. Ada pembatasan pendaftaran karena kan tidak bisa mendadak seperti persiapan tukang rias. Pelaksanaan rencananta dimulai Februari,” katanya.

Ia menegaskan untuk kegiatan nikah bareng menyasar anggota dari kalangan warga kurang mampu karena pelaksanaan digelar secara gratis. Melalui event ini juga diharapkan bisa membantu kalangan warga kurang mampu. Para peserta akan difasilitasi selama proses nikah, bahkan diberikan fasilitas untuk bulan madu melalui kerja sama dengan pihak hotel.

Menggandeng Pengusaha

Dinsos DIY mengandeng banyak pihak terutama komunitas serta sejumlah pengusaha untuk melangsungkan event tersebut. Nikah bareng menurutnya juga memiliki makna besar karena menyasar kalangan ekonomi lemah dan sejalan dengan konsep sithike dhing.

“Jargonnya sebenarnya bukan nikah barengnya tetapi bagaimana konsep sithike dhing ini bisa direalisasikan, karena dibiayai berbagai komponen, sosial, komunitas pengusaha. Nikah bareng ini sasarannya juga untuk warga miskin, kami biayai, semangatnya kan berbagi rasa, berbagi ruang dan berbagi tanggungjawab. Ini gratis, difasilitasi, bulan madu juga difasilitas kami bekerja sama dengan PHRI [pengantin bisa] menginap di hotel,” katanya.

Untung mengatakan sedangkan untuk kegiatan batik jumputan juga lebih diarahkan pada sasaran keluarga kurang mampu. Harapannya bisa melengkapi dinas lain dalam melakukan pemberdayaan masyarakat. Melalui festival tersebut masyarakat diharapkan bisa mengenal produk dan dapat meningkatkan hasil sehingga memberikan dampak ekonomi yang besar.

“Untuk jumputan, kami ingin intervensi binaan itu di kelurahan berbagi sasaran untuk warga miskin kan Dinsos, sedangkan kalau pemberdayaan bisa dinas lain. Kami kolaborasi, untuk mengenalkan produknya, agar produktivitasnya meningkat dan ada peningkatan hasil, sasaran, ekonomi, multiplayernya banyak untuk warga miskin ini,” katanya.

Peran Dinsos DIY dalam event Jogja Heboh setiap tahun mengubah konten namun dengan sasaran yang sama yaitu kalangan warga miskin. “Kami melakukan setiap tahun berubah konten dan dikembangan dengan menyasar masyarakat miskin, ke depan titiknya dan intervensi berbeda, sasaran tetap orang miskin,” ucapnya. (ADV).
Ditulis ulang oleh : budhi wibowo, Kasi Penyuluhan Sosial.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Marquee Powered By Know How Media.
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x