....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

SATRIYA....Selaras-Akal Budi Luhur-Teladan-Rela Melayani-Inovatif-Yakin dan Percaya Diri-Ahli Profesionalitas

PENYULUHAN SOSIAL MENYAPA DI UDARA

(Last Updated On: 17 Januari 2020)

Yogyakarta (17/01/2020). Dinas Sosial, melalui kegiatan penyuluhan sosial ingin menyampaikan pesan-pesan baik kepada seluruh masyarakat. Disadari atau tidak, masyarakat terbagi dalam beberapa kelompok dengan kegemaran masing-masing. Pemirsa radio, adalah satu komunitas tersendiri. Memilki kegemaran sendiri, berkomunikasi dengan bertegur sapa memanfaatkan teknologi suara.. Menyesuaikan dengan kebiasaannya, Penyuluhan Sosial menyapa mereka di udara.

Empat orang narasumber hadir bersama di satu acara Penyuluhan Sosial melalui Media Elektronik Radio. Adalah Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin, Agus Setyanto, Dalang Wayang Cakruk, Ki Marno dan Ki Alfian Anggoro Mukti serta seorang yang mengaransement gending-gending yang dilantunkan di setiap pagelaran wayang cakruk, Bayu. Berempat, mengupas tuntas tentang pemanfaatan Wayang Cakruk sebagai satu media Penyuluhan Sosial Melalui Media Peragaan di Radio MBS, 92,70 FM, Kamis (16/01).

Agus memberikan keterangan bahwa, “yang kita lakukan hari ini adalah satu dari sekian jenis penyuluhan yang akan kita lakukan. Penyuluhan Sosial Melalui Media Elektronik Radio. Ada banyak jenis yang akan kita lakukan di tahun 2020 ini”. “Karena berbagai segmen masyarakat, akan kita sasar, untuk memberikan informasi pembangunan sosial dan kesejahteraan sosial yang telah dan sedang dilakukan masyarakat”, tambah Agus.

Sementara Ki Marno menyampaikan bahwa, “ide penamaan dan penggunaan kata cakruk, sebenarnya adalah satu penggambaran tentang tempat, yang dalam beberapa hal bisa menjadi sarana ngudar rasa. Cakruk atau pos ronda, menjadi satu tempat berbincang santai, alam-alaman membahas berbagai hal secara bebas”. “Konteks ini yang ingin diketengahkan sebagai media ngudar permasalahan sosial yang ada di masyarakat. Maka lakon yang digelar bukan seperti wayang kulit, tetapi seputar PSKS (Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial) dan PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial). Demikian pula tokoh-tokoh wayangnya, kami buat tokoh seperti dunia nyata. Ada polisi, ustad, guru, pemabok dan sebagainya”.

Ki Alfian, memberikan penjelasan tentang durasi yang pendek, hanya sekitar 3 s.d. 4 jam dalam setiap pagelaran wayang cakruk. “Ini lebih efektif untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Para penonton wayang biasanya lebih tertarik pada segmen limbukan atau goro-goro. Sementara segmen yang lain cenderung kurang diperhatikan. Oleh karena itu, dalam wayang cakruk masyarakat akan cenderung mengikuti keseluruhan segmen karena durasinya yang relatif pendek”.

Penyuluhan Sosial melalui Media Elektronik Radio (16/01) adalah kali pertama untuk tahun 2020. Penyuluhan Sosial ingin menyapa masyarakat melalui udara. Masih ada puluhan kali lagi penyuluhan serupa, dengan tema yang berbeda pada sebelas bulan ke depan. (wb).

Ditulis oleh : budhi wibowo, Kasi Penyuluhan Sosial.

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalasnya. Pertanyaan/pengaduan yang menjadi fokus pelayanan kami hanya khusus untuk permasalahan sosial yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.