....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

SATRIYA....Selaras-Akal Budi Luhur-Teladan-Rela Melayani-Inovatif-Yakin dan Percaya Diri-Ahli Profesionalitas

Program Restorasi Sosial GERBANGPRAJA bersama Pendamping PKH di Kelurahan Banguntapan Bantul.

(Last Updated On: 21 November 2019)

20 November 2019 bertempat di Kelurahan Banguntapan telah dilaksanakan restorasi sosial GERBANGPRAJA bersama 200 orang pendamping PKH. Pendamping tersebut berasal dari 100 orang pendamping wilayah Kota Yogyakarta, 50 orang pendamping wilayah Kab. Bantul dan 50 orang pendamping wilayah Kab. Kulonprogo. Kepala Dinas Sosial DIY keynote speaker membuka dengan yel Semboyan Jogja Istimewa. Peserta tampak riuh menyambut riuh dan penuh semangat. Drs Untung Sukaryadi, MM, kepala Dinas Sosial DIY menyampaikan bahwa konsep restorasi sosial mulai tahun 2018. Konsep dari Dinas Sosial DIY ini lah telah menginspirasi Peraturan Gubernur tentang Tata Naskah Jawa. Ke depan akan disusun Pedoman Penggunaan Aksara Jawa. Masing-masing Instansi di Pemerintah DIY mulai diberlakukan tulisan dengan huruf jawa.

Pedamping PKH hadir dalam restorasi sosial Gerbangpraja
Narasumber ki Sutikno (kiri) dan Gph Yudhahadiningrat

Tidak menutup kemungkinan bahwa bahasa jawa menjadi materi yang diujikan untuk tes penerimaan CPNS di daerah Istimewa Yogyakarta, ungkap Pak Untung.  Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki semangat membumikan aksara jawa pertama sebagai alat komunikasi tertulis, kedua sebagai filosofi tata kehidupan. Kita harus menjadi generasi modern yang mempunyai watak njawani, tidak ada kedamaian tanpa toleransi, tolenransi tidak mungkin tanpa ada rasa sithik edhing. Sasaran pendamping PKH menjadi peserta dalam program Restorasi Sosial Gerbangpraja adalah karena pendamping PKH secara khusus mendampingi kelompok fakir miskin, Fakir miskin memiliki komponen anak sekolah, lanjut usia dan juga penyandang disabilitas yang harus dijamin kesejahteraannya. Pendamping sebagai konselor dan sebagai penasehat sehingga tidak hanya sebagai pendamping kesejahteraan ekonomi tetapi juga mengajarkan filosofi njawani yang harus mencerminkan sikap yang njawani.  

Narasumber lain adalah GPH Yudhahadinigrat dan Ki Sutikno. Ki Sutikno menyampaikanmendidik anak perlu keteladanan tidak hanya ucapan. Anak tidak suka diungkit-ungkit kesalahannya, komunikasi anak adalah ladang pahala.

Kata anak : jangan banyak melarangku tetapi jelaskan kenapa aku tidak boleh melakukannya. Itulah yang menjadi pesan di acara penutup sore itu.

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalas sesegera mungkin. Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.