....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

SATRIYA....Selaras-Akal Budi Luhur-Teladan-Rela Melayani-Inovatif-Yakin dan Percaya Diri-Ahli Profesionalitas

MELALUI PENYULUHAN PERAGAAN ‘SENGKUNI DIPAKSA BERTOBAT’

(Last Updated On: 19 November 2019)

Yogyakarta (18/11/2019). Kalau tidak ada adu domba, bisa jadi dunia ini menjadi aman dan damai. Semua saling menghargai, saling bersahabat bahkan bersaudara. “Saudara” adalah mereka yang hadir menyeka peluh kita saat sangat gerah berkeringat. Atau yang hadir sekedar mendengarkan curahan hati kita saat kenyataan tidak lagi nyaman dirasakan. Damai, sejahtera ketika semua saling menghargai. Tapi semua itu justru membuat gerah seorang Sengkuni.

Penyuluhan Sosial dengan Media Peragaan “Wayang Cakruk” Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta, di Dusun Guyangan, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, tanggal 16 November 2019, berubah jadi haru biru. Pasalnya seorang Sengkuni hadir di acara itu.

Adu domba, fitnah, saling benci ditebarkan tokoh kita. Sepertinya, badannya menjadi meriang apabila dunia ini damai. Meriang kalau dia tidak bisa menciptakan kerusuhan. Meriang kalau banyak yang bisa tersenyum, bisa berbagi dalam suasana penuh damai. Dalam benaknya, dunia ini harus kacau. Harus rusak tatanan sosialnya. Kemudian dia hadir mengambil keuntungan. Memancing di air keruh. Yang semua itu akhirnya cocok dengan sepotong lagu populernya Mas Ebiet, bahwa….di tengah kegalauan, masih ada tangan yang tega berbuat nista….

Sebenarnya, yang hadir dalam pertunjukan wayang cakruk, dalam rangka penyuluhan itu bukan wujud wayang Sengkuni, tapi sifat yang dimiliki yang dihadirkan Ki Marno. Lakon yang dibabar dengan elok tentang masalah senyatanya di dunia nyata. Karena sebenarnya nemang tokoh-tokoh wayang di Wayang Cakruk berbeda dengan wayang kulit. Ki Marno ingin menceritakan bahwa pada akhirnya, semua angkara murka akan sirna oleh kebaikan, cinta dan kasih sayang sesama. “Suro dira jayaningrat lebur dening pangastuti”, sehingga Sengkuni dipaksa Bertobat.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Komisi D DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, H. Koeswanto. Kehadirannya dalam rangka melaksanakan fungsi dewan sebagai mitra dan wakil masyarakat untuk kontrol serta menyerap aspirasi masyarakat. Dalam kesempatan tersebut ada dialog serta harapan. Sedangjan Budhi Wibowo, Kasi Penyuluhan Sosisl, Dinas Sosial DIY, menyampaikan pentingnya semangat gotong royong, saling menolong, saling membantu. “Ini adalah ruh dari kesetiakawanan sosial, yang akan kita peringati besok tanggal 20 Desember 2019 sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial”, demikian dikatakan Budhi. Masih kata Budhi, bahwa “kamu adalah aku; sukaku menjadi sukamu dan dukamu adalah juga dukaku”.

Tidak kalah menarik, yang disampaikan ustad M Yusuf, ustad yang selalu setia di setiap Penyuluhan Sosisl melalui Media Peragaan “wayang cakruk”. Dalam tausiahnya Yusuf menyampaikan, bahwa kunci kebahagiaan hidup di dunia ini, sebenarnya ada di hati kita nasing-masing.

“Kemampuan kita untuk pandai dalam manajemen hati dengan baik, maka kita bisa bahagia”, demikian dikatakan. Maaih menurut Yusuf, “syukur, syukur dan selalu syukur nikmat”.

“Empat ukuran kebahagian menurut Rosulullah Muhammad, SAW : pertama, mempunyai pasangan hidup yang baik. Pasangan yang ketika kita pandang menyenangkan. Mentaati suami, segera memberikan sesuatu ketika diminta serta bisa menjaga kehormatan dan harga diri ketika pasangannya pergi. Ora sitik-sitik nesu, tapi nek nesu mung sitik-sitik. Kedua, mempunyai lingkungan yang baik. Ketiga, mempunyai anak yang sholeh, serta keempat adalah memiliki sumber rizki yang dekat dari tempat tinggal”, demikian kata Yusuf.

Benang merah menghubungkan antara cerita dalam wayang cakruk yang dibabar Dalang Ki Marno, pernyataan Koeswanto, Budhi dan Ustad Yusuf. Bahwa sifat-sifat Sengkuni bisa dan harus bisa dipaksa bertobat. Satu upayanya adalah dilakukan dengan kembali memperkuat semangat kesetiakawanan sosial (tolong menolong, kerjasama, kebersamaan dan gotong royong), sehingga mampu diperoleh kebahagiaan dengan empat ukuran kebahagiaan seperti yang disampaikan Ustad M Yusuf.

Sengkuni dipaksa bertobat. Penyuluhan sosial Dinas Sosial DIY memang beda. (wb).

Ditulis oleh : budhi wibowo, Kepala Seksi Penyuluhan Sosial.

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalas sesegera mungkin. Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.