....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

GERBANGPRAJA ....Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa....Nggugah Rasa Sithik Edhing Lumantar Aksara

YAKIN KITA MISKIN?

(Last Updated On: 11 Oktober 2019)

Yogyakarta (10/10/2019). Tidak malu kalau mampu ngaku miskin? Ini adalah tema, yang diambil oleh panitia Penyuluhan Sosial Melalui Media Peragaan, di Dusun Diro, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Pertanyaan yang sangat menggelitik bagi siapa saja, di bumi Indonesia ini. Menurut Badan Pusat Statistik, orang dikatakan miskin apabila memenuhi beberapa kriteria dari 14 kriteria miskin standar Badan Pusat Statistik. Apabila minimal 9 variabel terpenuhi, maka dapat dikatakan sebagai rumah tangga miskin.

Tidak kurang dari 400 orang hadir, dalam Penyuluhan Sosial Melalui Media Peragaan dengan menggunakan wayang cakruk, yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini digelar di Dusun Diro, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, pada tanggal 27 September 2019 yang lalu. Penyuluhan ini menjadi lebih meriah, karena pada malam hari itu juga dilakukan peresmian dan pemberian nama jalan oleh warga sekitar, dengan nama tokoh kerajinan topeng Dusun Diro. Tidak hanya itu, penyuluhan malam itu juga diwarnai dengan suguhan tari oleh pemuda serta pengukuhan bregodo, sebagai bentuk kepedulian warga Diro dengan seni tradisi yang ada dan berkembang di masyarakat.

Hadir dalam penyuluhan sosial tersebut Kepala Seksi Penyuluhan Sosial Dinas Sosial DIY, Budhi Wibowo, atas nama kepala dinas, memberikan sambutan dan menyampaikan materi penyuluhan berkaitan dengan program perlindungan dan jaminan sosial; yang salah satunya adalah tentang Program Keluarga Harapan. Para peserta penyuluhan terlihat antusias, ketika Budhi membawa selembar poster, dan menunjukkan kepada peserta penyuluhan. Poster tersebut berisikan tulisan yang menggelitik, yaitu: Yakin nih kita miskin?

Poster tersebut, adalah salah satu media penyuluhan melalui media cetak, yang dibuat oleh Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui Kegiatan Penyuluhan, Edukasi dan Promosi Kesejahteraan Sosial, serta Pendataan PMKS dan PSKS tahun 2019.

Menurut Budi, Program Perlindungan dan Jaminan Sosial yang digulirkan oleh pemerintah, adalah salah satu bentuk keberpihakan pemerintah kepada masyarakat miskin, dan upaya dalam rangka menangani masalah kemiskinan tersebut. “Ada 14 kriteria miskin menurut standar BPS sehingga seseorang atau rumah ah tangga dapat dikatakan sebagai rumah tangga miskin. Empat belas kriteria miskin tersebut adalah: luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi per orang; jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah atau bambu atau kayu murahan; jenis dinding tempat tinggal dari bambu atau rumbia atau kayu berkualitas rendah atau tembok tanpa di plester; tidak memiliki fasilitas buang air besar atau bersama-sama dengan rumah tangga lain; sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik; sumber air minum berasal dari sumur atau mata air tidak terlindung atau sungai atau air hujan; bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar arang atau minyak tanah; hanya mengkonsumsi daging atau susu atau ayam dalam satu kali seminggu; hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun; hanya sanggup makan sebanyak 1 atau 2 kali dalam sehari; tidak sanggup membayar biaya pengobatan di Puskesmas atau poliklinik; sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas dengan luas lahan 500 meter persegi, buruh tani, nelayan, buruh bangunan buruh perkebunan, dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp.600.000,- perbulan; pendidikan tertinggi kepala rumah tangga : tidak sekolah, atau tidak tamat SD, atau tamat SD; tidak memiliki tabungan, atau barang yang mudah dijual dengan minimal Rp.500.000,- seperti sepeda motor kredit, atau non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal”, demikian kata Budhi. “Kalau kita ingin disebut miskin, maka yang paling sederhana adalah : minimal 9 variabel tersebut bisa terpenuhi” demikian kelakar Budhi.

Dalang Wayang Cakruk Ki Marno Purbo Carito, menyambung dan menggelar kisah senada dengan penyuluhan sosial, yang disampaikan oleh Budhi tersebut. Melengkapi ilustrasi dan kondisi miskin, tersebut Ustad Yusuf, juga menyampaikan pandangan dan tausyiahnya dalam penyuluhan sosial menggunakan media peragaan wayang cakruk, dari sudut atau perspektif agama.

Di akhir pagelaran wayang sebagai media penyuluhan sosial melalui media peragaan, pertanyaan besar adalah : TIDAK MALU KALAU MAMPU NGAKU MISKIN ?

Ditulis oleh : Budhi Wibowo, Kepala Seksi Penyuluhan Sosial.

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalas sesegera mungkin. Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.