....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

GERBANGPRAJA ....Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa....Nggugah Rasa Sithik Edhing Lumantar Aksara

Dinas Sosial DIY sukses gelar Restorasi Sosial Gerbangpraja Bagi Paguyuban Duta Se- DIY

(Last Updated On: 30 September 2019)

Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta telah sukses menyelenggarakan program Penguatan Restorasi Sosial Gerbangpraja (Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa) pada Sabtu, 21 September 2019 di Gedung Bima, Balai Kota Yogyakarta. Restorasi sosial gerbangpraja ini merupakan restorasi sosial yang ke-42 yang pernah diadakan oleh Dinas Sosial DIY. Terdapat hal yang istimewa pada restorasi sosial gerbangpraja kali ini, sasaran pesertanya merupakan paguyuban duta se-DIY dan komunitas penggiat literasi di Yogyakarta. Drs. Junaedi selaku kepala seksi kepahlawanan, kepejuangan, keperintisan, kesetiakawanan, dan restorasi sosial mengungkapkan bahwa mengundang paguyuban duta se-DIY ini karena diyakini Duta adalah salah satu tokoh teladan di masyarakat, sehingga harapanya, melalui seluruh paguyuban duta se-DIY yang hadir dapat lebih meluaskan informasi dan materi yang diterima dari penguatan restorasi sosial gerbangpraja ini.

Suksesnya acara ini juga melibatkan paguyuban duta bahasa DIY dalam kepanitiaanya, Heru Cahyo R selaku koordiantor panitia mengatakan bahwa program restorasi sosial kali ini tentu dikemas dengan cara yang berbeda dan lebih menarik. Selain acara inti sarasehan restorasi sosial yang menghadirkan tiga narasumber hebat dibidangnya, program ini juga ditambahkan dengan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Tingkatkan Literasi untuk Indonesia Emas 2045. Peserta dibagi kedalam beberapa kelompok dan selanjutnya berdiskusi untuk memberikan ide/ inovasi program untuk meningkatkan budaya literasi/ minat baca di DIY pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Kegiatan secara simbolis dibuka dengan pemukulan gong oleh Drs. Junaedi dengan didampingi Drs. Pardi, M.Hum (Kepala Balai Bahasa DIY), dan dilanjutkan dengan acara inti yaitu sarasehan dengan tiga narasumber hebat/ ahli dibidangnya. Narasumber pertama adalah Prof. Manu J Wideyaseputra, yaitu seorang filolog dan dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM. Beliau mengatakan bahwa sudah sangat jarang sekali orang yang mampu membaca aksara jawa, padahal orang-orang jawa jaman dulu merupakan orang yang sakti yang selanjutnya menjadi pujangga atau menuliskan ilmu pengetahuan/ ramalan mereka kedalam kitab-kitab tertentu. Tapi sayangnya kitab-kitab tersebut beraksara jawa kuno, sehingga banyak dari kita yang tidak mengerti isi dari kitab-kitab tersebut karena tidak tahu cara membacanya.

Narasumber yang kedua adalah Dr. Pardi, M.Hum yang merupakan kepala Balai Bahasa DIY, beliau menekankan bahwa membentuk generasi modern yang njawani bukanlah perkara mudah. Njawani adalah sebuah level karakter manusia yang tinggi. Namun beliau menekankan bahwa sebagai generasi modern khususnya orang jawa harus senantiasa berupaya menjadi generasi yang njawani. Ada tujuh penyakit mental yang menurut Dr. Pardi harus dihindari, yaitu: kebodohan, mental miskin, keterbelakangan, sombong, gengsi tinggi, pelupa, dan pemalas. Dengan menghindari tujuh penyakit mental tersebut maka seseorang akan senantiasa melakukan yang terbaik dan mampu memimpin dirinya ke arah perubahan positif.

Drs. Untung Sukaryadi, MM selaku kepala Dinas Sosial DIY sebagai keynote speaker mengatakan bahwa sebagai generasi muda yang njawani harus bisa menempatkan diri, merenung dan bertanya pada dirinya sendiri sebagai sosok pemuda apa yang telah diberikan pada bangsa ini, atau kontribusi nyata apa yang telah diberikan pada bangsa ini. Selanjutnya dengan semangat “sithik edhing” haruslah memiliki sikap empati terhadap sesama, berbagi rasa dengan cara menghayati makna dan filosofi aksara jawa. Selanjutnya juga ditambahkan oleh narasumber yang ketiga yaitu Drs. Ki Sutikno bahwa membangun karakter generasi modern yang njawani harus memiliki solidaritas yang tinggi, taat terhadap norma hukum yang berlaku, menghormati lingkungan sosial, dan tinggi budi bahasanya. Beberapa paguyuban duta se-DIY yang hadir adalah Duta bahasa DIY, Duta Damai BNPT, Duta Wisata Bantul, Duta Genre DIY, Duta Remaja Genre DIY, Duta Pendidikan Anti Korupsi DIY, Duta Anti Napza, Duta Kopma UGM, Miss Bantul, Putri Adana, dll. Banyak peserta yang memberikan kesan yang positif dengan adanya acara ini, seperti yang disampaikan oleh Putri Adana misalnya “semakin mencintai dan bangga menjadi orang jawa dengan segala filosofi kebudayaaan dan aksaranya, menambah wawasan banget, dan seru acaranya”. Tanggapan serupa juga disampaikan oleh Duta Genre DIY, “Acaranya sangat seru, narasumbernya menarik, dan acara seperti ini harus diadakan sesering mungkin untuk menyadarkan banyak orang tentang gerbangpraja dan meningkatkan kepedulian sosial masyarakat”. Acara diakhiri dengan bernyanyi lagu Tanah Airku dan berfoto bersama.

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalas sesegera mungkin. Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.