....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

GERBANGPRAJA ....Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa....Nggugah Rasa Sithik Edhing Lumantar Aksara

MUSDES DAN MUSKEL SATU SOLUSI ALTERNATIF NENJAWAB PERMASALAHAN DATA PROGRAM PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL

(Last Updated On: 24 September 2019)

Yogyakarta (20/09/2019). Permasalahan data, selalu muncul ke permukaan ketika memperbincangkan tentang bantuan sosial dan program perlindungan. Tuduhan yang sering disampaikan oleh para pengkritik pada pelaksanaan bantuan dan perlindungan adalah “data yang amburadul”. Masalah ini menjadi sangat membosankan ketika tidak didapatkan jawaban yang diinginkan. Bahkan para pelaksana juga kadang tidak menguasai tentang data tersebut.

Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, menjadi lokasi pelaksanaan penyuluhan sosial melalui media peragaan, dengan memanfaatkan kesenian tradisional berupa wayang yang telah dimodifikasi. Wayang cakruk, Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta; malam itu, Sabtu 13 September 2019 mbabar lakon, berkaitan dengan permasalahan kesejahteraan sosial.

Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial DIY, Agus Setyanto hadir menyampaikan materi penyuluhan sosial. “Ketika berbicara masalah bantuan, pasti yang pertama kali muncul adalah, tidak tepatnya data”, demikian kata Agus. “Ada yang mempertanyakan, kenapa dia yang sudah kaya dapat, sementara saya yang masih miskin tidak dapat?, demikian imbuh Agus.

Menurut Agus, apabila ada permasalahan berkaitan dengan data penerima bantuan sosial, maka masyarakat bisa melakukan evaluasi termasuk mengusulkan seseorang untuk terdaftar sebagai penerima bantuan. “Musyawarah Desa dan atau Musyawarah Kelurahan atau yang sering kita dengar akrab dengan sebutan musdes dan muskel”, demikian kata Agus.

Pak Becik, keluar menawarkan solusi. Dia adalah seorang warga di Desa Wayang Cakruk yang usahanya sukses. Malam itu, Pak Becik datang ke rumah Pak Lurah Wayang Cakruk membawa segepok uang. Ini perbincangan berupa dialog antara keduanya. “Pak Lurah, saya mendengar bahwa banyak warga yang kurang puas dengan pemberian bantuan yang dilakukan di desa kita; terutama tentang PKH dan BPNT. Mereka menganggap dirinya layak tapi tidak dapat, sementara yang tidak layak malah dapat”, demikian kata Pak Becik. “Saya punya satu solusi, kita tidak usah menggadaikan harga diri dengan bantuan-bantuan itu. Banyak warga kita yang sudah sukses Pak Lurah. Kita kumpulkan mereka untuk mengumpulkan sebagian hartanya. Lalu kita berikan kepada masyarakat kita yang kurang mampu untuk modal usaha”. Pak Becik menyampaikan ide-idenya dengan penuh semangat. “Ini ada dari saya Rp.3.000.000,- Pak Lurah. Saya serahkan untuk diberikan kepada warga yang tidak mampu untuk modal usaha”. “Siap Pak Becik, kita akan adakan temu warga. Perbincangan ini akan kita rembug lebih lanjut dalam pertemuan itu” kata Pak Lurah Wayang Cakruk. “Saya pernah mendengar program Dinas Sosial untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat. Kalau tidak salah, programnya adalah Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM)”.

Akhir dari perbincangan, di Penyuluhan Sosial melalui Media Peragaan Wayang Cakruk malam itu adalah kesepakatan untuk membentuk WKSBM. Untuk memperoleh informasi lebih baik, mereka akan ke Dinas Sosial DIY mencari informasi tentang WKSBM. (wb).

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalas sesegera mungkin. Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.