....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

GERBANGPRAJA ....Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa....Nggugah Rasa Sithik Edhing Lumantar Aksara

Penyuluh Sosial Goes To School: Optimalisasi Pelayanan Penyuluhan Sosial Pada Generasi Muda

(Last Updated On: 27 Mei 2019)

Penyuluh Sosial Goes To School: Optimalisasi Pelayanan Penyuluhan Sosial Pada Generasi Muda

Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta melalui seksi Penyuluhan Sosial melakukan kegiatan Penyuluh Sosial Goes To School di SMA Negeri 3 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan kegiatan inovasi yang dilakukan seksi Penyuluhan Sosial untuk meningkatkan pelayanan publik penyuluhan sosial. Selama ini Dinas Sosial DIY dikenal memberikan penyuluhan pada masyarakat-masyarakat desa, penyuluh sosial goes to school ini membawa warna tersendiri dengan harapan dapat meningkatkan upaya preventif (pencegahan) pada remaja tentang permasalahan sosial. Selain itu harapan dari kegiatan ini dapat membuat remaja yang merupakan generasi muda menjadi agen perubahan dalam upaya kesejahteraan sosial dengan cara meningkatkan kepeduliaan sosial mereka.

Terwujudnya penyuluh sosial goes to school ini juga merupakan kerjasama (team work) dari seluruh pejabat fungsional penyuluh sosial di lingkungan Dinas Sosial DI. Yogyakarta. Heru Cahyo Romadhon, S.Tr.Sos sebagai pemateri, sedangkan Ilham Febri Purnomo, S.Sos, Maya Kartika Sari, S.Sos, Sapto Parjono, S.Pd, MM, dan Kirman, S.Ag sebagai fasilitator ketika peserta dibagi menjadi kelompok lebih kecil serta Budhi Wibowo, A.KS, M.Si sebagai penanggungjawab kegiatan. Selain itu kelancaran kegiatan Penyuluh Sosial Goes To School ini juga merupakan bentuk kerjasama dua instansi yaitu  antara SMA Negeri 3 Yogyakarta dengan Dinas Sosial DIY. Kegiatan ini dilakukan pada hari Kamis, 23 Mei 2019 di aula sekolah SMA Negeri 3 Yogyakarta. Peserta yang hadir berjumlah 200 siswa yang terdiri dari kelas sepuluh dan sebelas.

Penyuluh sosial goes to school di SMA Negeri 3 Yogyakarta ini membawa tema Permasalahan Remaja Di Lingkungan Sekolah: School Bullying Dan Stop Pornografi. Belakangan ini banyak terjadi kasus bullying di sekolah seperti kasus Audrey, kasus bully siswi SD di Thamrin City, dll, padahal sekolah sejatinya merupakan tempat belajar dan perlindungan anak jadi sangat miris sekali jika bullying terjadi di sekolah. Hal tersebut menjadi latar belakang ditentukannya tema school bullying ini di SMA Negeri 3 Yogyakarta. Dijelaskan oleh pemateri yaitu Heru Cahyo Romadhon, S.Tr.Sos bahwa school bullying memiliki lima bentuk yang dapad ditemukan di sekolah, yakni bully secara fisik, verbal, sosial/ relasional, seksual, dan cyberbullying. Dalam penyuluhan ini juga ditampilkan video dampak buruk bullying bagi pelaku dan korban, bagi pelaku tentu akan terjerat hukum hingga menimbulkan sanksi pidana, sedangkan untuk korban dapat berdampak enggan bersekolah, prestasi menurun, trauma psikologis, hingga bunuhdiri.

Tema yang kedua adalah stop pornografi, tema ini dipilih karena kementerian kesehatan pada tahun 2017 telah melakukan penelitian bahwa 94% remaja di Indonesia telah terpapar pornografi. Pada tahun 2018 data tersebut bukan menurun tapi malah meningkat menjadi 98%. Sedangkan data yang dimiliki oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak yang pernah melakukan survey di DI. Yogayakarta pada tahun 2018 menunjukan bahwa 97 % remaja pernah mengakses situs pornografi. Selanjutnya pemateri juga melakukan survey kecil pada peserta yang hadir dimana semua peserta yang hadir menyatakan bahwa tahu dan pernah melihat pornografi. Penyuluhan ini memberikan penjelasan terkait dampak buruk yang ditimbulkan dari pornografi, yaitu menimbulkan kecanduan. Kecanduan pornografi sama hal nya dengan kecanduan NAPZA yang dapat merusak otak, dan kecanduan tersebut yang harus segera dihentikan. Selain itu bahaya yang lain dari pornografi adalah membuat perilaku yang buruk dan kehilangan identitas diri. Kehilangan identitas diri dimaksudkan bahwa seseorang yang kecanduan tidak akan sadar bahwa dirinya sedang dalam masalah yang dapat menimbulkan kerusakan pada otaknya.

“Kecanduan pornografi bisa kita hentikan asal kita percaya terlebih dahulu bahwa kita dapat bebas dari kecanduan, selanjutnya membuat support grup dengan teman-teman yang sama-sama ingin bebas dari pornografi, dan yang terakhir adalah latihan kontrol diri untuk menghindari godaan pornografi” ujar Heru sebagai pemateri. Para siswa juga diajak melakukan Role Playing pembulian di sekolah dan cara penanggulangannya. Kegiatan role playing ini diharapkan akan membuat siswa akan sadar akan permasalahan bullying di sekolah.

Agus Setyanto, SE., MA selaku kepala bidang pada seksi penyuluhan sosial mengatakan bahwa “Kedepannya kami akan menyusun program penyuluh sosial goes to shool ini untuk menyasar beberapa sekolah tingkat SMP dan SMA di lingkungan DI. Yogyakarta, mengingat bahwa upaya preventif di generasi muda juga penting dilakukan untuk mengajak generasi muda menjadi agen perubahan upaya peningkatan kesejahteraan sosial di masyarakat dan meningkatkan kepedulian sosial generasi muda jaman sekarang yang sudah mulai luntur”. Kegiatan diakhiri dengan membuat janji hati, dimana para peserta menuliskan komitmen mereka tentang stop bullying dan pornografi. Selanjutnya dilakukan foto dan pengambilan video bersama.

Penulis : Heru Cahyo Romadhon, S.Tr.Sos

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalas sesegera mungkin. Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.