....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

GERBANGPRAJA ....Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa....Nggugah Rasa Sithik Edhing Lumantar Aksara

PAGELARAN RINGGIT WACUCAL PUNCAK ACARA HKSN DIY

(Last Updated On: 26 Desember 2018)

Oleh : Wibowo Budhi

Yogyakarta (24/12/2018). Nilai-nilai kesetiakawanan sosial didalam masyarakat perlu terus dilestarikan dan diperkuat lagi, begitu juga dengan kinerja dan persatuan para pekerja sosial, hendaknya dapat senantiasa ditingkatkan melaui upaya-upaya yang terencana, terprogram dan berjesinambungan. Yang kita butuhksn bukan sekedar pernyataan simoati, tapi langkah-langkah nyata dari kita semua untuk metingankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan. Dan kesetiakawanan sosial haruslah terkristalisasi menjadi budaya yang mewujud dalam bentuk nilai, sikap dan perilaku sekaligus menjadi modal sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada umumnya dan penyelenggaraan kesejahteraan sosial pada khususnya. (KGPAA Paku Alam X).

Bambang Wisanggeni menjadi Raja di Dandang Mangore kerajaannya Bathari Durga atau Dewi Perwoni bergelar Prabu Dahana Murti sedangkan Ontoseno menjadi patih merangkap jabatan apa saja. Bambang Wisanggeni adalah ansk dari Arjuna, sedangkan Ontoseno adalah anak dari Bima.

Alkisah, Bambang Wisanggeni ingin meminjam dampar kencana kerajaan Hastinapura. Dia bersama Ontoseno menyampaikan secarik surat untuk menyampaikan maksud tersebut. Tetapi maksud tersebut ditolak oleh Raja Hastina Duryudana. Karena aneh, kedudukan, jabatan ingin dipinjam.

Pandita Durna bersama patih Sengkuni berusaha membuat tipu muslihat agar Bambang Wisanggeni tidak bisa mewujudkan keinginannya. Maka terjadilah perang. Dua satria itu maju berdua melawan para kurawa. Cerita menjadi menarik ketika raja Hastina bersana Pandita Durna lari tunggang langgang karena tidak kuat melawan dua satria tadi. Ada dialog : “sekarang kerajaan sudah kosong, rajanya juga sudah pergi, sudah sana kamu duduk di singgasana, demikian kata Ontoseno. “Tidak kakang, saya ingin duduk di singgasana Hastina kalau diberikan ijin oleh yang punya singgasana” ini kata Wisanggeni. Sebuah dialog menarik tentang pentingnya lilah (ijin dan restu) dari yang berhak untuk diminta sesuatu. Tidak serta merta memaksakan kehendak.

Kisah ini berlanjut ketika dua satria itu mengejar Raja Hastina yang ingin minta bantuan ke Bethari Durga. Dua Satria kita berubah pikiran karena Bethari Durga kalah dan meninggalkan kerajaan. Wisanggeni ingin menjadi raja di kerajaannya Bethari Durga.

Ini adalah sepotong kisah seru yang dipentaskan Ki Dalang Seno Nugroho di halaman Dinas Sosial DIY pada malam puncak acara peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) tahun 2018 berbarengan dengan Gelar Budaya Padukuhan Plumbon Banguntapan.

Melakonkan Wisanggeni dadi Ratu. Ki Seno Nugroho meramu menjadi tontonan dan tuntunan yang adi luhung. Penuh dengan makna dan bertabur falsafah edi peni budaya jawa. Ki Seno selalu menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat dalam setiap pagelaran wayang kulit.

Drs. Untung Sukaryadi, MM dalam sambutannya, membacakan sambutan Wakil Gubernur DIY mengatakan bahwa momentum pertunjukan wayang kulit ini : “….merupakan upaya untuk mengenang kembali, menghayati dan meneladani semangat persatuan, kesatuan dan kegotongroyongan dan kekeluargaan rakyat yang secara bahu membahu mempertahankan kedaulatan bangsa atas pendudukan Kota Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indobesia”.

Sampai dini hari penikmat seni wayang kulit ini tumpah ruah jadi satu di halaman Parkir Dinas Sosial DIY. Tidak beringsut sedikitpun seolah tersihir dalam alur cerita yang seru tetapi sangat menarik. Ini adalah pesta lokal yang memberikan suguhan seni adiluhung, juga suguhan minum dan makanan kecil pencegah ngantuk yang lir gumanti. Suguhan dari masyarakat padukuhan Plumbon Banguntapan. Wujud syukur merti dusun dan semangat “Sithik Edhing”.

Pagelaran ringgit purwa yang disajikan menurut Sutyanto, SH adalah juga puncak acara gelar budaya yang beberapa jam sebelumnya diawali dengan Kenduri Budaya.

Penonton dimanjakan juga dengan taburan doorprize. Pertanyaan sederhana, aneh dan lucu menjadi penyemangat komunikasi panitia dengan penonton. Sik penting bahagia. Sik penting rukun dalam bingkai perbedaan.

Delapan pesinden mbuda tampil memberikan suara emasnya. Sound system yang mantap dipadu dengan kemampuan pengrawit menjadi kolaborasi yang beda. Sigrak, syahdu bercampur jadi satu.

Kesempatan ini oleh panitia juga dimanfaatkan untuk menyerahkan hadiah bagi para juara Lomba Dirigen Lagu Indonesia Raya dan Lomba MC Bahasa Jawa. Terpilih masing masing juara 1, 2 dan 3. Selain mrndapatkan hadiah, para juara juga memperoleh piagam penghargaan yang ditandatangani Kepala Dinas Sosial DIY.

Tat twam asi. Kamu adalah aku. Lukamu adalah juga dukaku dan sukaku adalah juga bahagiamu. Sukses HKSN 2018 Daerah Istimewa Yogyakarta. (wieb’2018)

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalas sesegera mungkin. Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.