....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

Dinas Sosial DIY mengucapkan ....Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 H....Mohon Maaf Lahir dan Batin

Takut Menjadi Tua?

(Last Updated On: 16 November 2018)

Oleh: Feriawan Agung N., S.Sos (Pekerja Sosial Balai PSTW)

Ini ungkapan yang paling sering nongol: “Membaca cerita-cerita Mas Feri, saya takut menjadi tua. Bagaimana ya menjalani hari-hari tua dengan suka cita, indah, dan bahagia?”

Jawaban klise pertama adalah memelihara kesehatan yang baik. Sayangnya, kesehatan manusia itu ada batasannya. Sesehat apapun anda, kalau tua pasti akan lemah juga. Tidak ada ceritanya semakin tua kondisi fisik tetap kuat atau malah lebih baik. Di situlah anda perlu berpikir bahwa investasi hidup hanya untuk bisa sehat saja tidaklah cukup. Sangat tidak cukup. Pun kalau masih sehat, apa artinya sehat jika ternyata anda menderita kepikunan?

Kuncinya adalah, ada suatu masa dimana hidup anda akan bergantung pada orang lain. Kalaupun masih mandiri secara fisik, pasti anda butuh dukungan sosial. Dukungan pertama adalah keluarga anda: istri/suami dan anak-anak. Inilah investasi pertama yang harus sejak awal anda perhitungkan. Tidak ada orang yang paling direpoti ketika anda tua kecuali istri/suami (kalau masih ada), dan anak-anak.

Jadi, sejak saat ini, pandanglah mereka. Lihat baik-baik wajah mereka dan resapi lalu bayangkan: apakah ketika anda sudah tua mereka akan rela berkorban demi memelihara anda yang bisa jadi butuh dicebokin, butuh dipapah, butuh dimandikan, butuh dimanusiakan. Kalau anda rasa masih meragukan, itu tandanya anda harus lebih banyak lagi berinvestasi pada mereka. Investasi ini belum tentu juga soal materi, tetapi kasih sayang, budi pekerti, pengetahuan, kebahagiaan, kegembiraan, kerja keras, karakter pribadi dan lain sebagainya yang para akhirnya membuat anda yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang mampu anda andalkan kelak jika anda tua. Percayalah, anda tidak punya pilihan lain.

Kedua, adalah investasi sosial. Berapa banyak para pejabat tinggi yang pasca pensiun lalu drop? Berapa banyak dari para cerdik pandai, politisi, selebritis yang pada akhirnya ketika tua hidupnya tidak terperhatikan? Banyak! Padahal ketika mereka jaya yang pada ngumpul banyak tuh?

Itu artinya salah menempatkan investasi sosial. Maka, harus jeli kepada siapa kita menjalin hubungan sosial, seberapa baik kualitasnya, seberapa itu menolong kita di masa tua. Lagi-lagi, bayangkanlah ketika anda tua di rumah anda. Kira-kira, seberapa banyak tetangga kiri kanan yang menaruh hormat kepada anda? Ataukah hanya berlalu tanpa kata? Seberapa banyakkah teman kerja anda yang datang mengunjungi anda di saat anda sudah pensiun? Seberapa banyakkah lingkungan yang menerima anda ketika anda tidak bekerja? Apakah anda punya komunitas untuk “ngakak” bersama, misalkan saja sesama alumni, sesama hobi, sesama pengajian, sesama pengkaji khasanah kelimuan, atau apalah itu.

Jadi saya yakin anda tahu arah pernyataan saya tentang investasi sosial. Bahwa dukungan sosial pada masa tua, ditentukan dari seberapa besar pengorbanan sosial anda kepada tetangga anda, kepada teman-teman anda, rekan-rekan kerja anda, komunitas anda, jejaring anda, dan semua-mua yang melingkupi anda. Peliharalah pertemanan, pertetanggaan, komunitas, dan semua yang nantinya menjadi tempat Anda berbagi di masa tua. Jangan pelit-pelit, jangan bermental menjajah teman, jangan gampang menyakiti teman, jangan memiliki citra buruk seperti sok pamer kekayaan karena yakinlah pamer kekayaan justru kontra produktif dalam meningkatkan kualitas kehidupan sosial, kecuali anda sedang terjebak pada lingkungan yang salah.

Ketiga, dan ini yang paling penting, tentu saja investasi akhirat: bagaimana spiritualitas anda. Bahwa membangun hubungan pribadi yang baik dengan Allah SWT akan menenangkan hidup anda dari segala ketakutan tentang apapun, termasuk hari tua. Bagaimana doa-doa anda didengar, itu bergantung dari bagaimana anda menjalin kemesraan dengan Allah SWT. Dialah pemilik segala kenikmatan yang pada akhirnya diambil-Nya lagi satu persatu dari anda, dan anda tidak punya kuasa secuilpun untuk menahannya.

Jangan pernah menyesal, bahwa ketika anda diambil kenikmatan tersebut, anda tidak sempat untuk menggunakan secara maksimal. Misal, ketika anda masih bisa berpikir lancar, anda masih sempat menulis atau berbagi dengan orang lain tentang ilmu-ilmu dan kemampuan yang anda miliki. Jauh dari maksiat dan dosa, serta banyak berbuat demi kepentingan ibadah. Hingga pada akhirnya tiap-tiap kenikmatan tersebut bisa anda pertanggungjawabkan secara maksimal di hari akhir kelak.

Demikian, sekali lagi, bahwa membangun masa tua yang indah ditentukan pada bagaimana anda berinvestasi pada masa kini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
30 × 15 =


Marquee Powered By Know How Media.