....SEMUA BENTUK PELAYANAN DI DINAS SOSIAL DIY TIDAK DIPUNGUT BIAYA......MEMBANTU MASYARAKAT ADALAH KEPUASAN KAMI......

,

SATRIYA....Selaras-Akal Budi Luhur-Teladan-Rela Melayani-Inovatif-Yakin dan Percaya Diri-Ahli Profesionalitas

MENJAGA KOPERASI UNTUK TIDAK MATI SURI

(Last Updated On: 16 November 2018)

MENJAGA KOPERASI UNTUK TIDAK MATI SURI

 

Penulis : Wibowo Budhi

 

Yogyakarta (01/08/2018). Sejatinya, koperasi menjadi soko guru perekonomian. Anggota dan pengurus koperasi bahu membahu mewujudkan kesejahteraan bersama. Demikian pula dengan koperasi pegawai dan karyawan. Untuk menjaga agar tetap mampu mengemban amanah “mensejahterakan” bersama tersebut koperasi memerlukan energi untuk menjaga agar tidak mati suri.

Nur Yuwono, SH Kepala Seksi Keluarga Bermasalah Sosial sekaligus sebagai salah satu pengurus koperasi “Jasa” Dinas Sosial DIY, menyampaikan hasil acara menanggapi Kunjungan Kerja Pengurus dan Pengawas Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKP RI) Kota Yogyakarta.

Pengurus PKP RI yang turut hadir dalam kunjungan adalah H.Hadi Muchtar SE.MM, Ir.Hj.Tjahyani Suminar E. MMA dan Dr.Drs.Djoko Dwiyanto .M.Hum. Kunjungan tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 1 Agustus 2018. Dengan rentang waktu dari 12.30 s.d. 14.30 WIB, bertempat di Aula Barat Dinsos DIY , beberapa catatan berupa permasalahan di Koperasi Jasa Dinas Sosial DIY dan solusi aternatif disampaikan.

Terungkap bahwa minat anggota koperasi aktif untuk mengajukan pinjaman mengalami penurunan. Sementara anggota yang pasif (mengalami hambatan untuk mengembalikan pinjaman) menjadi peminat baru untuk melakukan peminjaman. Sebagian lagi lebih memilih untuk melakukan transaksi keuangan ke lembaga keuangan lain. Ini yang perlu dipertanyakan. Kelemahan apa yang masih dimiliki Koperasi Jasa sehingga perlahan ditinggalkan anggotanya.

Saatnya nanti, ketika energi untuk tumbuh dan berkembangnya koperasi berkurang, mati suri bisa menjadi kondisi yang sangat menakutkan. Layu sebelum berkembang. Tugas berat berikutnya menanti pengurus koperasi untuk menghidupkan kembali. Tetapi sebenarnya bukan hanya pengurus koperasi tetapi adalah anggota dan semua yang ada didalamnya harusnya tergerak untuk memberi energi positif agar koperasi bergairah lagi.

 

Keberpihakan kepada koperasi dan anggota harus menjadi tekad bagi pengambil kebijakan. Demikian pula dengan Koperasi Jasa Dinas Sosial DIY. Diubah paradigmanya. Tidak lagi terkesan koperasi dan pengurus yang membutuhkan tetapi anggota koperasi yang membutuhkan koperasi. Menjadi meringankan pengurus koperasi ketika kebutuhan anggota koperasi bisa terpenuhi di koperasi tentu dengan kemudahan, pemenuhan selera anggota serta tidak memberatkan. Alternatif lain adalah adanya sedikit “paksa rela” agar anggota koperasi memenuhi kebutuhan hariannya di koperasi dan koperasi dengan syarat kemudahan memenuhi kebutuhan anggota. Anggota koperasi akan menjadi bersemangat tentang manfaat sebagai anggota koperasi ketika memperoleh manfaat langsung yang nyata.

Usaha usaha seperti penyediaan sembako, Jasa Perpanjangan STNK, Penjualan Pulsa/ Paket Data dan usaha lain “kekinian” harus mulai dipikirkan. Kelakar yang sering terlontar adalah kalau ada yang menyediakan lebih murah, lebih mudah prosedurnya, lebih menyenangkan kenapa harus ke koperasi yang banyak persyaratan?

Usaha “kekinian” dan pemanfaatan media sosial menjadi wajib dilakukan koperasi. Koperasi kita harus berani membuka diri dengan dunia luar.

Hadi Muhtar, mengingatkan bahwa Pengurus Koperasi harus menyadari banyaknya Kompetitor dari lembaga perbankan yg lain baik berupa Koperasi, BPR maupun Bank Perorangan sehingga perlu berpikir inovasi dan mencari terobosan seperti penurunan suku Bunga pinjaman. Sedangkan untuk meningkatkan kapasitas ditawarkan kepada pengurus koperasi untuk mengikuti Diklat/Bintek yang akan dilaksanakan oleh PKP RI pada bulan September 2018. Tetapi bila tidak memungkinkan PKP RI menawarkan alternatif lain yaitu mengadakan sendiri Binteknya dan akan dibantu oleh PKP RI.

Lebih lanjut Hadi Muhtar menyampaikan bahwa pengurus perlu “ngangsu kawruh” dengan melakukan studi banding Ke koperasi yg sudah berkembang lebih baik. Sedangkan dari sisi kebijakan perlunya pendekatan dan dukungan dari Pejabat Struktural di Dinsos DIY. Dukungan yang sesungguhnya dari pucuk pimpinan sampai pada pimoinan level terbawah. Intinya adalah semangat solusi mencari pilihan pilihan terbaik.

Pesan akhir sebagai kesimpulan adalah jangan biarkan koperasi sebagai soko guru perekonomian layu sebelum berkembang. Akan lebih sulit menghidupkan kembali yang mati suri dari sekedar menambah energi untuk koperasi kita. Sejahtera bersama Koperasi Jasa Dinas Sosial DIY. (WB’2018).

Tuliskan Pesan, Pertanyaan, ataupun Pengaduan di kotak/form yang tersedia di bawah ini. Administrator kami akan membalas sesegera mungkin. Terima kasih.

avatar
1000
  Subscribe  
Notify of
Marquee Powered By Know How Media.